01 April 2009

KKG Guru Kelas III di SDN Sarang Burung

Sepanjang perjalanan dari sekolah menuju acara Kelompok Kerja Guru Kelas III tingkat SD/MI di SDN Sarang Burung Kecamatan Danau Panggang saya melihat awan keperakan menggantung di langit. Di arah utara, awan hitam berarak pelan. Barangkali mau turun hujan lagi. Semilir angin sejuk menemani perjalanan.

Bersama saya, beriringan Pak Khairil Anwar, seorang Fasilitator Pendidikan untuk Proyek Pilot Pendidikan yang bersasaran daerah tertinggal seperti Kecamatan Danau Panggang. Kami sama-sama mengendarai sepeda motor.

“Kita harus lewat jalan memutar, Pak.” Serunya dari arah belakang saya. “Tidak bisa lewat tanggul. Tanahnya becek dan lengket. Sepeda motor bisa amblas di jalan itu.”

Memang, hujan lebat yang turun tadi malam membuat jalan tanggul menuju Desa Sarang Burung yang panjangnya beberapa kilometer itu menjadi becek dan lengket. Saya sendiri sebenarnya belum pernah lewat jalan tanggul. Ini adalah pengalaman pertama kali ke Desa Sarang Burung.

Desa Sarang Burung seperti beberapa desa terpencil lainnya di Danau Panggang, seringkali berada di tengah-tengah rawa. Penduduknya kebanyakan bermatapencaharian sebagai nelayan air tawar. Jumlah penduduknya juga tidak banyak. Sarang Burung boleh jadi merupakan desa pemekaran dari Desa Telaga Mas, yang letaknya agak lebih dekat ke jalan aspal.

KKG guru kelas III tingkat SD/MI selalu menantang. Sebulan yang lalu saya menjadi narasumber di SDN Longkong. Sekolah ini tak jauh beda dengan SDN Sarang Burung, juga terletak di tengah-tengah rawa. Pengalaman yang tak mungkin terlupa saat itu adalah: saya salah mengambil arah waktu mau pulang. Bukannya menuju jalan besar dan keluar dari Desa Longkong, malahan saya mengarahkan sepeda motor menuju ujung desa yang menurut para penduduk akan menuju Desa Manarap. Ada-ada saja.

“Lalu kita lewat mana, Ril?” Saya memang biasa langsung menyebut nama kepada Pak Khairil Anwar. Saya menanggalkan kata ‘Pak’ di depan namanya. Dia lebih senang dipanggil begitu. Mungkin karena umurnya jauh lebih muda dari saya. Beda sepuluh tahunan.

“Lewat Desa Telaga Mas.”

“Jadi kita lewat titian panjang?” tanya saya lagi.

Khairil mengangguk. Saya tersenyum kecut.

Asal tahu saja, Desa Telaga Mas dihubungkan dari jalan aspal Alabio-Danau Panggang oleh titian dari kayu ulin yang kondisinya rusak parah. Banyak kayu-kayunya yang telah patah. Khairil sendiri, pernah tercebur bersama sepeda motornya. Walhasil, laptopnya rusak dan hpnya hilang. Terjun bebas ke air rawa yang kedalamannya berkisar dari sedada orang dewasa hingga 2 meteran. Peristiwa itu terjadi sekitar setahun yang silam. Belum lagi masalah mengangkat sepeda motor dari dalam rawa, perlu tenaga beberapa orang penduduk dan peralatan seperti tali atau katrol.

Akhirnya kamipun tiba di depan titian panjang dari kayu ulin selebar 160cm. Tanpa pagar. Saya meminta Khairil yang duluan di depan, soalnya dia lebih sering lewat sini. Saya sendiri, beberapa kali pernah lewat di titian ini. Alhamdulillah belum pernah jatuh. Cuma ya itu, sering nahan napas dan jantung jadi deg-degan. Bikin gugup.

Khairil melaju. Namun, hanya beberapa saat saja segera melambat karena banyaknya bagian titian yang rusak. Bahkan saya yang di belakangnya harus ekstra hati-hati. Bagaimana tidak. Titian itu benar-benar bikin spot jantung. Beberapa kali saya turun dari sepeda motor membetulkan letak papan-papan yang hampir jatuh karena lepas tercabut pakunya. Lihat saja contohnya di foto berikut. Mata saya hanya tertuju pada papan-papan lantai titian itu. Bolong dan patah di mana-mana. Kadang-kadang ban sepeda motor hanya berjalan di atas gelagar (kayu balok ukuran 5cm x 5cm) penyangga papan. Papan-papannya sendiri telah patah dan lepas. Perjalanan menjadi terasa lama sekali.

Ternyata yang takut-takut melintasi titian itu tak cuma saya. Beberapa ratus meter di depan, saya melihat iring-iringan para guru kelas III peserta KKG. Ibu-ibu guru terpaksa menuntun sepeda motor. Beberapa yang berboncengan juga harus turun. Perjuangan yang luar biasa untuk sebuah kegiatan KKG? Saya pernah mempertanyakan kepada mereka mengapa KKG kadang-kadang diadakan di tempat yang sulit dijangkau. Jawab mereka, “Agar ada pergantian tempat saja. Guru-guru lain biar tau bagaimana kondisi sekolah-sekolah yang terpencil. Biar sekolah-sekolah yang terpencil itu juga mendapat kesempatan didatangi pihak-pihak terkait semacam pengawas, atau orang-orang Dinas Pendidikan.”

Setelah melewati Desa Telaga Mas, kamipun akhirnya memasuki Desa Sarang Burung. Sebuah desa di atas air. Rumah-rumah panggung berjejer di kanan kiri titian. Anak-anak usia sekolah yang tak bersekolah bermain-main di beranda rumah. Rupanya banyak anak yang putus sekolah atau barangkali memang tak pernah sekolah. Penasaran apakah mereka murid kelas I dan II yang sudah pulang sekolah? Saya tengok jam di hp dalam saku celana, saat itu masih jam sembilan pagi. Saya coba berpikir positif, anak-anak itu tentu anak-anak kelas I dan II yang dipulangkan lebih awal karena ruang kelas mereka dipakai untuk kegiatan KKG nanti.

Sekolah yang dituju akhirnya terlihat juga di depan mata saya. Ada banyak anak-anak berseragam merah putih. Beberapa guru peserta KKG berbincang-bincang dan hamparan enceng gondok di tengah-tengah halaman sekolah yang berbentuk huruf U.

Setelah menunggu beberapa peserta lain akhirnya acara KKGpun dilaksanakan. Semua berjalan lancar seperti yang diharapkan, kecuali para petugas konsumsi yang terjebak di jalan tanggul yang becek dan lengket. Oleh sebab itu, acara makan siang setelah KKG selesai sedikit agak tertunda.

Ditulis oleh Suhadi, seorang guru IPA SMP di suatu pelosok Kalimantan Selatan, yaitu SMP Negeri 4 Danau Panggang, pada 20 Maret 2009.
»» Selengkapnya

24 Maret 2009

Mengubah Cara Bukan Isi

Akan tiba saatnya sekolah tidak lagi terkungkung pada empat tembok yang membatasi. Tapi akan meluas dan melewati batas yang ada sekarang. Banyak sekali tipe kurikulum yang sudah dirancang dan diluncurkan namun sedikit banyak siswa-siswi kita sekarang bukan lah menjadi pengguna atau sasaran yang tepat dari kurikulum-kurikulum tersebut.

Siswa dan siswi kita sekarang tumbuh dalam dunia pertumbuhan dunia digital yang sangat cepat. Ada yang mengatakan perbandingannya 1:7 artinya satu tahun didunia nyata sama dengan 7 tahun di dunia digital. Sebuah percepatan yang luar biasa. Apa mau dikata siswa dan siswi kita berpikir dan berbicara dalam bahasa yang berbeda dengan kita. Mereka adalah pemilik dan penduduk asli dunia digital.


Digital Natives

Siapakah mereka? Mereka adalah individu yang lahir antara tahun 1990 sampai sekarang. Menurut Marc Prensky mereka adalah yang menghabiskan hidupnya dengan berbicara dan mengirim pesan lewat telepon genggam, mendengarkan musik, menggunakan pemutar music digital. Bermain video games atau mengobrol lewat internet sampai berjam-jam. Singkat kata hidup mereka dikelilingi oleh alat-alat digital (gadget).

Jika Anda mengajar mereka jangan bayangkan suasana kelas yang tenang dan senyap, yang terjadi terkadang mereka terdengar gaduh dikarenakan biasa berkolaborasi satu sama lain, serta melakukan segalanya saat bersamaan (multitasking).


Digital Immigrants

Mereka adalah individu yang lahir antara tahun 1960 sampa 1980. Analogi gambar sebuah kamera digital akan menjelaskan fenomena tipe penduduk ini di dunia digital.
Digital Immigrants akan mengatakan bahwa kamera digital adalah kamera digital, karena pernah mengenal kamera yang belum menjadi digital, ingat kamera yang menggunakan roll film yang kemudian dicetak dan memakan waktu untuk melihat karena harus menunggu beberapa lama. Sementara kaum digital natives akan mengatakan kamera digital adalah kamera tanpa embel-embel digital, dikarenakan saat mereka lahir yang ada hanyalah kamera jenis tersebut.

Terkadang perbedaan jurang antara dua generasi ini kerap menimbulkan masalah, padahal siswa-siswi kita yang nota bene adalah digital natives akan senang sekali jika kita (digital immigrants alias guru dan orang dewasa yang ada di sekitar mereka) menunjukkan minat pada hal-hal yang berbau digital dan bisa menjadi pegangan dan tempat mereka bercerita dan berbagi mengenai pengalaman mereka sehari-hari di dunia digital.

Sebab apakah kita tidak merasa iba jika mereka yang harus belajar dengan gaya ‘lama’ (tanpa teknologi) ingat metode chalk and talk sementara tantangan buat mereka di masa depan akan jauh lebih berat dari yang kita hadapi sekarang. Ingat pendidikan adalah membekali siswa kita ke masa depan dengan cara yang juga ‘baru’ tentu. Contoh nyata yang mungkin bisa kita lihat sekarang adalah banyaknya bidang pekerjaan yang kemudian hilang tapi juga kemudian banyak muncul ragam profesi yang dahulu bahkan belum pernah ada.

Banyak cara menuju keseimbangan antara dua generasi ini, dan bukannya tidak mungkin harmonisasi ini akan melahirkan generasi yang cakap teknologi sekaligus mempunyai kemampuan beretika yang matang dan dibutuhkan dalam kehidupan sebenarnya di masa depan. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa anda tempuh;

  1. Saat membelajarkan siswa gunakan keingintahuan mereka atas sebuah pengetahuan yang baru sebagai arah dalam pembelajaran. Kemudian lakukan pembuatan perencanaan pembelajaran yang memfasilitasi keingin tahuan tersebut, tentunya dalam batas kurikulum yang menjadi acuan anda.

  2. Buatlah proyek pembelajaran dimana setiap siswa bisa memberikan pendapat, pandangan bahkan masukan atas karya milik rekannya. Dengan demikian Anda melatih mereka untuk berkolaborasi. Sebuah hal yang sangat penting yang dibutuhkan di abad 21.

  3. Terapkan prinsip inovasi, kolaborasi, keberagaman, keterampilan dan kesadaran sebagai warga global saat menggunakan teknologi dalam memperkaya pembelajaran. Dijamin siswa akan senang melakukan beberapa peran sekaligus saat yang sama yaitu; sebagai pengarang atau pencipta produk pembelajaran mereka, menjadi mentor saat memberi masukan kepada rekannya, yang terakhir menjadi ahli dalam menjelaskan produk pembelajaran yang dihasilkannya.

  4. Silahkan memilih ‘alat’ atau tools untuk anda gunakan bersama siswa anda di kelas. Ada wiki, blog, youtube dan lain-lain


Jadi, mari tinggalkan cara lama agar siswa bisa terinspirasi dan merasa terikat dengan kelas pembelajaran yang kita lakukan. Beberapa hal yang kita bisa lakukan adalah; mencermati keberagaman siswa-siswi Anda dalam segala hal. Mencari terus dan berinovasi dalam ilmu pedagogi yang cocok untuk pembelajaran bagi digital natives.

Memilih tipe pengujian (assessment) mana yang cocok untuk siswa-siswi kita di jaman ini. Menyiapkan kurikulum anda disekolah, apakah sudah menyiapkan siswa untuk menghadapi abad 21 yang bertumpu pada subyek inti yang ada sekarang, keterampilan berpikir dan belajar bagaimana belajar, keterampilan teknologi dan keterampilan hidup.

Dengan demikian wahai para guru, mari mengubah cara bukan isi.

Ditulis oleh Agus Sampurno, guru Sekolah Global Jaya, Tangerang
»» Selengkapnya

04 September 2008

Perlu Keterpaduan Dalam Pendidikan Agama Islam



Oleh : Abdul Haris Zuhad, S.Pd.I
(Guru PAI Kelas V Umar SDIT Harapan Bunda Semarang)


Banyak yang berkomentar bahwa system pembelajaran mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) berbeda dengan mata pelajaran yang lainnya, sebagian menganggap lebih rumit karena output dari pembelajaran agama Islam adalah perbaikan dan peningkatan ibadah, akhlak dan pengetahuan siswa terhadap pengetahuan keIslaman. Jika hanya mengandalkan jumlah jam pertemuan di kelas maka bisa dikatakan mustahil mewujudkan hasil pembelajaran yang demikian. Tidak bisa dipungkiri bahwa adanya mata pelajaran PAI adalah sebagai penyeimbang mata pelajaran yang lain dalam rangka membentuk karakter anak didik dan memberikan pengaruh positif bagi anak didik dalam beramal sholih, berakhlak mulia dan bersopansantun sesuai dengan ajaran agama Islam. Permasalahannya adalah, apakah cita-cita agung tersebut pasti bisa diraih dengan hanya memberikan 2 jam pelajaran di setiap pekannya?

Untuk menjawab permasalahan itu, sebaiknya kita melihat kembali bagaimana karakter seseorang itu bisa dibentuk. Rasulullah saw menggambarkan seorang anak bagaikan secarik kertas yang bersih tanpa tulisan apapun, orang tuanya lah yang akan menentukan apakah ketika dewasa menjadi yahudi atau majusi bahkan menjadi pribadi muslim yang sempurna. Bukti teori pendidikan sudah digulirkan oleh Rasulullah jauh sebelum para ahli pendidikan berbicara masalah pendidikan anak. Dalam hal ini penulis memahami bahwa yang dimaksud dengan orang tua disini mempunyai 3 aspek; orangtua yang melahrikan dan merawat si anak dalam hal ini ayah dan ibu; orang tua yang memberikan pengajaran di lingkungan sekolah, yakni para guru dan ustadz; serta orang lain yang dianggap oleh anak sebagai contoh atau panutan di masyarakat atau dunia pergaulannya.

Sebenarnya, jika melihat realitas saat ini, sekolah belum melengkapi kebutuhan si anak didik dalam rangka memberikan pembelajaran tentang karakter atau pribadi muslim yang sempurna. Apalagi hanya 2 jam pelajaran sangat kurang tentunya untuk memberikan pemahaman dan membentuk karakter muslim yang kuat, ditambah lagi jika ada kendala-kendala teknis seperti mutu guru PAI yang kurang profesional dan cara penyampaian yang kurang efektif, maka bisa dibilang kalau pembelajaran PAI dengan 2 jam pelajaran seperti tidak ada pengaruhnya ke anak didik.

Sekolah bisa menyiasati permasalahan ini dengan membuat sebuah sistem Pendidikan Agama Islam yang terpadu, dalam artian bagaimana guru me-manage pola asuh anak didik dengan sebaik-baiknya, dalam hal ini guru ikut serta memantau anak didik tidak hanya di sekolah akan tetapi juga di rumah dan di masyarakat. Aplikasi dari konsep ini seperti ketika guru ingin melihat bagaimana kebiasaan anak didik ketika di pagi hari, begitu selesai shalat subuh guru menelpon anak didik untuk dicek, tidak perlu setiap hari, jika perlu jadikan itu program pekanan dengan agenda menelpon 5-8 anak setiap pekan. Sedangkan bentuk pemantauan di masyarakat bisa dengan membuka komunikasi dengan masing-masing orang tua anak didik sehingga guru mengetahui kebiasaan dan teman-teman bermain ketika di rumah.

Setelah mencoba untuk memberikan perhatian ke anak didik, konsep keterpaduan selanjutnya adalah seorang guru harus mampu memberikan tampilan pembelajaran yang terbaik, bukan hanya sebatas tampilan ketika di depan kelas, akan tetapi kelihaian seorang guru untuk bisa menyusun sebuah materi pembelajaran yang aplikatif, dalam hal ini seorang guru harus memahami bahwa semua ilmu adalah bersumber dari Allah SWT, tidak ada dikotomi mata palajaran, kalau perlu pada saat pelajaran PAI guru harus mampu mengembangkan ke ranah pelajaran umum, seperti halnya jika menjelaskan tafsir Surat Al-Mukminuun ayat ke 12-14 tentang bagaimana Allah menciptakan manusia, pada kondisi demikian, guru PAI harus mampu mengembangkan atau minimal mengetahui bagaimana teori janin yang ada dikandungan yang ada di ilmu kesehatan (biologi). Jika model pembelajaran seperti ini dapat di laksanakan dan dengan sentuhan-sentuhan kreatifitas pembelajaran, maka anak didik akan mendapatkan masukan ilmu yang komprehensif dan terpadu antara ilmu agama (dalil al-Quran) dan ilmu biologi (janin manusia).

Selanjutnya, keterpaduan yang penulis maksud dalam tulisan ini adalah adanya sebuah kesamaan visi dan didukung oleh lembaga pendidikan dalam hal ini struktur sekolah dan setiap guru yang mengajar di lingkungan sekolah. Semua penyelenggara pendidikan harus mempunyai kesamaan tujuan dan cita-cita untuk memberikan pendidikan yang sempurna untuk anak didiknya, kesempurnaan ini bisa dituangkan dalam program-program pendidikan yang merangsang perkembangan fikriyyah (pola pikir anak didik), ruhiyyah (kecerdasan spiritual) dan jasadiyyah (perkembangan fisik anak didik). Syarat mutlak untuk mewujudkan keterpaduan pendidikan ini adalah adanya lingkungan pendidikan yang kondusif dimana setiap guru mampu menjadi teladan bagi anak didiknya, bagaimana mungkin anak didik bisa bersikap jujur (shiddiq) jika setiap hari dia melihat dan mendengar berbagai kebohongan yang ada di sekitarnya.

Demikian wacana konsep keterpaduan yang penulis tawarkan, semoga bisa menjadi referensi bagi aktivis pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik di negri ini. Khususnya bagi para guru PAI, yang mempunyai tanggungjawab besar untuk memberikan panduan beragama Islam yang benar kepada anak didiknya. Wallahu A’lamu bi showab.
»» Selengkapnya

16 Agustus 2008

Parkir Motor vs Sekolah

Mungkin anda bertanya-tanya, kenapa saya mengambil judul tersebut. Ada apa dengan parkir motor dan sekolah? Apakah ada hubungan di antara keduanya?

Seringkali kita dengar, bahwa biaya pendidikan di Indonesia terbilang cukup tinggi (khususnya bagi sekolah swasta). Sehingga para orang tua cukup dipusingkan dengan masalah tersebut. Bahkan bagi sebagian orang pendidikan dijadikan nomor kesekian.

Baiklah, mari kita berhitung.

Seorang tetangga saya berprofesi sebagai penyalur (detailer) obat. Tiap hari ia harus berkeliling, dari satu tempat praktek dokter yang satu ke dokter yang lain. Dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain. Begitu seterusnya, tiap hari dalam satu bulan. Dalam sehari, ia bisa mengunjungi 10 dokter dan 2 rumah sakit. Taruhlah, biaya sekali parkir adalah Rp 1.000 dan dalam satu bulan ada 25 hari kerja. Maka dapat dihitung, dalam satu bulan ia harus mengeluarkan uang untuk biaya parkir sebesar Rp 300.000.

Atau, bagi Anda yang perokok. Misalkan dalam sehari Anda menghabiskan 1 bungkus rokok dengan harga Rp 4.000. Maka dalam satu bulan, Anda telah membakar uang tak kurang dari Rp 120.000.

Jumlah tersebut, tentu jauh lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah spp atau iuran pendidikan anak kita dalam 1 bulan hanya kisaran Rp 50.000 - 100.000. Sudah begitu, anak kita di sekolah tidak hanya didiamkan sebagaimana tukang parkir akan mendiamkan motor yang kita parkir. Sekolah akan memberikan ilmu pengetahuan kepada anak kita, memberikan mereka ketrampilan hidup dan ketrampilan sosial. Sehingga mereka mampu hidup di masyarakat.

Pertanyaannya sekarang. Kalau kita rela merogoh kantong untuk biaya parkir motor, rela membakar uang dengan merokok. Tidakkah kita rela menyisihkan pendapatan untuk pendidikan anak-anak kita? Untuk masa depan mereka?

Silakan pilih, parkir motor, rokok atau pendidikan anak. Semua tergantung Anda.

Ditulis oleh abahetika
»» Selengkapnya

13 Agustus 2008

Karakter Bangsa

Ada sebuah ungkapan 'jumlah anak-anak hanya 25% dari total penduduk, tetapi menentukan 100% masa depan bangsa'.Itu berarti maju tidaknya sebuah bangsa sangat tergantung pada kualitas generasi mudanya. Thomas Lockana, profesor pendidikan dari Cortland University, mengungkapkan ada tanda-tanda zaman bagi kehancuran suatu bangsa yaitu:
  1. meningkatnya kekerasan di kalangan remaja,
  2. penggunaan bahasa dan kata yang memburuk,
  3. pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan,
  4. meningkatnya perilaku yang merusak diri (narkoba,seks bebas, alkohol).
  5. semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk,
  6. penurunan etos kerja,
  7. semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru,
  8. rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara,
  9. ketidak jujuran yang membudaya,
  10. rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.
Dengan adanya berita yang sering terdengar tentang kenakalan, tawuran, kriminalitas remaja, kita boleh menilai apakah bangsa kita sudah memiliki 'tanda-tanda zaman' tersebut. Jika benar adanya, apakah bangsa kita sudah dekat dengan kehancuran? Terjadinya dekadensi moral pada generasi muda adalah cerminan dari krisis karakter dari seluruh bangsa.
Seluruh manusia dilahirkan dalam keadaan suci, berakhlak baik atau buruk sangat tergantung pada bagaimana ia dididik dan dibesarkan lingkungannya (keluarga, sekolah, masyarakat). Coba bayangkan, lingkungan tempat generasi muda kita dibesarkan sedang mengalami krisis multidimensi, krisis moral yang parah (budaya KKN yang sudah mengakar, kebohongan publik, fitnah, konflik keluarga, pertikaian multietnis, agama, golongan dsb).
Bagaimana kita akan menciptakan masa depan yang cerah kalau anak-anak dibesarkan dalam lingkungan seperti itu?????
Fancis Fukuyama mengatakan, bangsa yang bisa maju adalah yang mempunyai social capital, yaitu high trust society, cirinya adalah masyarakat yang individunya bisa dipercaya. High trust society adalah karakter bangsa yang nilai-nilai integritas, kerjasama, tenggang rasa, etos kerja tinggi, dan amanah (jujur dan tanggung jawab) menjadi corak perilaku kehidupan.
Permasalahan karakter bangsa adalah masalah penting yang harus ditangani kalau kita ingin mencegah bangsa ini dari kehancuran.
Tulisan ini merupakan ungkapan hati seorang pendidik ibu Ratna Megawangi,Ph.D dalam bukunya Semua Berakar Pada Karakter
PR besar bagi kita untuk merubah paradigma pendidikan kita agar tidak cognitif oriented, baik di rumah di sekolah maupun di masyarakat ....
AYO KITA BISA!!!!

Diambil dari Mata Pena - Sri Purwaningsih
»» Selengkapnya