16 Agustus 2008

Parkir Motor vs Sekolah

Mungkin anda bertanya-tanya, kenapa saya mengambil judul tersebut. Ada apa dengan parkir motor dan sekolah? Apakah ada hubungan di antara keduanya?

Seringkali kita dengar, bahwa biaya pendidikan di Indonesia terbilang cukup tinggi (khususnya bagi sekolah swasta). Sehingga para orang tua cukup dipusingkan dengan masalah tersebut. Bahkan bagi sebagian orang pendidikan dijadikan nomor kesekian.

Baiklah, mari kita berhitung.

Seorang tetangga saya berprofesi sebagai penyalur (detailer) obat. Tiap hari ia harus berkeliling, dari satu tempat praktek dokter yang satu ke dokter yang lain. Dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain. Begitu seterusnya, tiap hari dalam satu bulan. Dalam sehari, ia bisa mengunjungi 10 dokter dan 2 rumah sakit. Taruhlah, biaya sekali parkir adalah Rp 1.000 dan dalam satu bulan ada 25 hari kerja. Maka dapat dihitung, dalam satu bulan ia harus mengeluarkan uang untuk biaya parkir sebesar Rp 300.000.

Atau, bagi Anda yang perokok. Misalkan dalam sehari Anda menghabiskan 1 bungkus rokok dengan harga Rp 4.000. Maka dalam satu bulan, Anda telah membakar uang tak kurang dari Rp 120.000.

Jumlah tersebut, tentu jauh lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah spp atau iuran pendidikan anak kita dalam 1 bulan hanya kisaran Rp 50.000 - 100.000. Sudah begitu, anak kita di sekolah tidak hanya didiamkan sebagaimana tukang parkir akan mendiamkan motor yang kita parkir. Sekolah akan memberikan ilmu pengetahuan kepada anak kita, memberikan mereka ketrampilan hidup dan ketrampilan sosial. Sehingga mereka mampu hidup di masyarakat.

Pertanyaannya sekarang. Kalau kita rela merogoh kantong untuk biaya parkir motor, rela membakar uang dengan merokok. Tidakkah kita rela menyisihkan pendapatan untuk pendidikan anak-anak kita? Untuk masa depan mereka?

Silakan pilih, parkir motor, rokok atau pendidikan anak. Semua tergantung Anda.

Ditulis oleh abahetika
»» Selengkapnya

13 Agustus 2008

Karakter Bangsa

Ada sebuah ungkapan 'jumlah anak-anak hanya 25% dari total penduduk, tetapi menentukan 100% masa depan bangsa'.Itu berarti maju tidaknya sebuah bangsa sangat tergantung pada kualitas generasi mudanya. Thomas Lockana, profesor pendidikan dari Cortland University, mengungkapkan ada tanda-tanda zaman bagi kehancuran suatu bangsa yaitu:
  1. meningkatnya kekerasan di kalangan remaja,
  2. penggunaan bahasa dan kata yang memburuk,
  3. pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan,
  4. meningkatnya perilaku yang merusak diri (narkoba,seks bebas, alkohol).
  5. semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk,
  6. penurunan etos kerja,
  7. semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru,
  8. rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara,
  9. ketidak jujuran yang membudaya,
  10. rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.
Dengan adanya berita yang sering terdengar tentang kenakalan, tawuran, kriminalitas remaja, kita boleh menilai apakah bangsa kita sudah memiliki 'tanda-tanda zaman' tersebut. Jika benar adanya, apakah bangsa kita sudah dekat dengan kehancuran? Terjadinya dekadensi moral pada generasi muda adalah cerminan dari krisis karakter dari seluruh bangsa.
Seluruh manusia dilahirkan dalam keadaan suci, berakhlak baik atau buruk sangat tergantung pada bagaimana ia dididik dan dibesarkan lingkungannya (keluarga, sekolah, masyarakat). Coba bayangkan, lingkungan tempat generasi muda kita dibesarkan sedang mengalami krisis multidimensi, krisis moral yang parah (budaya KKN yang sudah mengakar, kebohongan publik, fitnah, konflik keluarga, pertikaian multietnis, agama, golongan dsb).
Bagaimana kita akan menciptakan masa depan yang cerah kalau anak-anak dibesarkan dalam lingkungan seperti itu?????
Fancis Fukuyama mengatakan, bangsa yang bisa maju adalah yang mempunyai social capital, yaitu high trust society, cirinya adalah masyarakat yang individunya bisa dipercaya. High trust society adalah karakter bangsa yang nilai-nilai integritas, kerjasama, tenggang rasa, etos kerja tinggi, dan amanah (jujur dan tanggung jawab) menjadi corak perilaku kehidupan.
Permasalahan karakter bangsa adalah masalah penting yang harus ditangani kalau kita ingin mencegah bangsa ini dari kehancuran.
Tulisan ini merupakan ungkapan hati seorang pendidik ibu Ratna Megawangi,Ph.D dalam bukunya Semua Berakar Pada Karakter
PR besar bagi kita untuk merubah paradigma pendidikan kita agar tidak cognitif oriented, baik di rumah di sekolah maupun di masyarakat ....
AYO KITA BISA!!!!

Diambil dari Mata Pena - Sri Purwaningsih
»» Selengkapnya

21 Juli 2008

Skala Kebijaksanaan Orang Tua


Devi cemberut setelah dimarahi Papanya. Ia merasa sangat butuh Papanya untuk membantu.Tetapi malah diminta mengerjakan sendiri.
"Kalau tahu akhirnya toh diminta mengerjakan sendiri ngapain repot-repot menunggu Papa selesai. Huhhh menyebalkan! Papa menyebalkan!", gerutunya dalam hati.
Sementara sang papa kembali melanjutkan aktivitasnya. Tetapi pikirannya tidak bisa fokus pada apa yang dikerjakannya. Ia pun tak tahu apa yang membuatnya punya perasaan seperti itu.
Siang berganti sore dan dengan cepat sore berganti malam. Seisi penghuni rumah Devi tertidur lelap. Tetapi Papa Devi tak bisa memejamkan mata secara sempurna.

Tiba-tiba ia mendengar suara halus dari dalam hatinya. Suara itu menegurnya dengan lemah lembut namun penuh ketegasan. "Engkau marah dengan dirimu sendiri tapi engkau tumpahkan pada anakmu yang tak tahu apa-apa. Sebenarnya kemarahanmu pada Devi tak perlu terjadi. Engkau bingung bagaimana harus menghadapi Devi bukan? Selama ini engkau tak pernah punya waktu untuk memikirkan strategi mendidik dan mengelola anak-anakmu!"

Semalaman ia tidak dapat tidur nyenyak. Ia merasa telah berbuat banyak untuk anaknya. Ia sudah membiayai sekolah dan kursus Devi. Ia membelikan berbagai keperluannya, mengajaknya berlibur, menemaninya bermain, tapi sepertinya masih ada yang kurang. Seribu pertanyaan lagi masih menggantung di pikiran.

Apa yang dialami ayah Devi banyak dialami orangtua lain. Mereka semua tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Semua pada bingung harus bagaimana. Ada banyak sekali tawaran tentang konsep pendidikan anak di luar sana. Semuanya laris manis. Mulai dari lagu yang bisa menstimulasi otak bayi sampai pendidikan super yang akan membuat anak kita menonjol dibanding anak lain. Dan semuanya dilatarbelakangi hasil penelitian ilmiah yang mutakhir.

Lalu apa jadinya? Orangtua menjadi terprovokasi dan laris manislah semuanya. Segala bisnis yang menyangkut anak, mulai dari keperluan bayi, mainan edukatif, buku bergambar, musik edukatif sampai sekolah berbahasa asing yang mempunyai berbagai fasilitas mentereng mulai bermunculan. Semuanya dikarenakan adanya permintaan pasar.
Lebih tepatnya semua dikarenakan banyaknya orangtua yang bingung bagaimana harus mendidik anaknya. Orangtua kebanyakan ingin semuanya cepat beres. Mereka tak sempat lagi berpikir mana yang esensial bagi anaknya. Ketika teori-teori hasil penelitian ilmiah disampaikan sebagai latar belakang suatu produk atau jasa maka mereka langsung terbuai.

Para orangtua sendiri tidak mempunyai pengetahuan yang cukup memadai untuk menilai produk yang ada di pasar. Mereka hanya menilai segala sesuatu dari seberapa cepat hasilnya tampak pada anak mereka. Jika itu memakan waktu lama, bertahun-tahun misalnya, maka mereka akan menganggap produk itu tidak bagus.
Orangtua disibukkan berburu produk yang bagus untuk anaknya. Mereka sibuk menilai berbagai produk dan jasa yang akan digunakan untuk anaknya. Waktu mereka habis untuk hal tersebut.

Orangtua tidak menyadari bahwa kemampuan mereka menilai produk dan jasa sebanding dengan dalamnya pengetahuan yang mereka miliki tentang psikologi tumbuh kembang anak beserta segala aspeknya. Jadi setiap orang pastilah mendapatkan manfaat dari segala macam produk tersebut tergantung dari seberapa dalam kita mengerti tentang produk tersebut. Kebanyak orangtua lupa untuk mengedukasi dirinya sendiri agar mampu memilih sesuatu yang baik bagi anaknya. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan pengetahuan dari orangtua mereka. Atau informasi sepotong-sepotong dari majalah dan teman yang memilki kasus serupa.

Orangtua sibuk meminta anak-anaknya belajar segala sesuatu tetapi mereka sendiri lupa untuk belajar. Padahal wawasan luas yang dimiliki orangtua menentukan pendidikan dan pengasuhan seperti apa yang akan diterima anaknya.

Baiklah mari kita misalkan segala pengetahuan yang diperlukan untuk mendidik anak diberi skala dari satu sampai sepuluh. Sepuluh adalah skala terbaik. Orangtua yang memiliki pengetahuan mendidik anak di skala 4 akan memperlakukan anaknya dengan cara yang berbeda sama sekali dibanding orangtua yang memiliki skala 8.

Anak dengan orangtua skala 4 akan mengalami perlakuan yang berbeda dengan anak yang orangtuanya berskala 8. Di manakah skala anda ?
Banyak orangtua menanyakan, "Bagaimana caranya menilai kemampuan diri sendiri untuk menangani anak?"
Mudah sekali. Ada beberapa hal penting yang patut kita kuasai sebagai dasar untuk membimbing anak.

Inilah beberapa hal penting dan mendasar yang perlu dikuasai dengan mendalam agar bisa mendidik anak kita menjadi sukses dan bahagia :
• Mengenali diri sendiri dengan baik dan mampu mengelola emosi sendiri. Jika sebagai orangtua kita tidak mampu mengenali diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik bagaimana kita bisa mengerti dan memahami orang lain (anak kita)
• Memiliki persepsi yang benar tentang mendidik dan mengasuh anak. Persepsi yang benar bisa dicapai jika kita mengerti cara berpikir yang benar dan mempunyai pengetahuan luas tentang anak-anak
• Mengerti tentang mekanisme pikiran dan fungsi otak sehingga kita mampu mempertimbangkan setiap tindakan dan ucapan
• Mengerti bagaimana pikiran memroses informasi dan pengalaman serta dampaknya di masa depan anak
• Kemampuan berkomunikasi yang bagus sehingga mampu menyampaikan maksud baik kita kepada anak tanpa distorsi makna. Semua orangtua bermaksud baik terhadap anaknya tetapi seringkali anak memaknainya dengan salah karena cara komunikasi yang tidak tepat
• Mengenali tipe kepribadian anak sehingga mampu interaksi anak-orangtua berjalan dengan baik
• Mengenali tipe dan gaya belajar anak sehingga kita mampu mengarahkan anak mencapai prestasi opitmal di bidang akademis
• Mengerti setiap proses tumbuh kembang anak serta apa yang diperlukan di setiap proses
• Kemampuan membantu anak mengatasi trauma sederhana
• Kemampuan membantu anak mengatasi masalah emosional dan membantunya memiliki kontrol diri yang baik
• Kemampuan membantu anak mengembangkan disiplin yang sehat tanpa merusak harga dirinya

Sumber: www.sekolahorangtua.com
»» Selengkapnya

Penyebab Prestasi Akademik Anjlok

PENYAKIT rendah mutu prestasi belajar sudah lama diidap oleh pendidikan di Indonesia. Ironisnya gejala penyakit ini mulai muncul ketika gencar mengadakan perbaruan pendidikan. Berapa kali sudah berganti kurikulum dan buku pelajaran.

Hitunglah berapa kali penataran guru dilakukan. Berapa banyak sudah guru yang meningkat kualifikasinya: dari SPG ke D1,D2, D3 dan bahkan hingga S 1 dan S2.

Prestasi belajar siswa akan meningkat jika gurunya mendapatkan penataran dan atau kualifikasinya meningkat. Walau begitu yang terjadi hasil ujian nasional (UN) umumnya mengecewakan. Bahkan di sejumlah sekolah ada siswanya yang tidak lulus 100%, pada hal batas kelulusan itu hanya 4.26.

Bukankah angka sebesar itu sesungguhnya masih termasuk kategori berwarna merah?

Apa yang salah?

Sesungguhnyalah tidak sulit menemukan masalahnya. Dengan nalar yang biasa saja kita mampu untuk mengungkapkan faktor penyebab penyakit rendah prestasi belajar.

Di sekolah dan di kelas kita menemukan informasi yang dapat mengungkapkan sebab-musabab jatuhnya pendidikan Indonesia. Di sekolah dan di kelas terekam interaksi antara guru - siswa - bahan ajar dengan lingkungan sekolah dan kelas.

Dukungan terhadap pendidikan (sekolah) juga ibarat kerucut terbalik. Semua proyek dengan dana besar menumpuk di pusat. Sebagian terbesar dosen, guru dan tenaga kependidikan yang bagus menumpuk di pusat.

Hampir semua kebijakan pendidikan pun menumpuk di pusat. Apa yang sampai di sekolah tak lebih ibarat tetesan air yang jatuhnya perlahan dan tidak teratur, serta sulit diramalkan kapan menetesnya. Dengan tetesan kecil dan tidak teratur itu, mana cukup untuk menyiram benih (peserta didik yang baru masuk), apalagi untuk mengairinya (meningkatkan mutu guru dan siswa) secara teratur?

Mengapa?

Pertama, buku yang berjudul Teaching Effectiveness and Teacher Development yang diedit oleh Cheng, Mok dan Tsui (2001) mengungkapkan jawabannya. Time On Task (TOT) merupakan kekuatan dahsyat untuk mendongkrak prestasi akademik siswa (PAS). TOT adalah jumlah waktu siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.

Makin banyak waktu yang betul-betul dipakai oleh siswa dalam proses pembelajaran maka akan meningkat pula prestasi akademiknya.

Malangnya penguapan waktu atau pemubaziran waktu dalam sistem pendidikan dan persekolahan di Indonesia diperkirakan sama dahsyatnya dengan penguapan kekayaan rakyat Indonesia. Ini terjadi dalam jumlah yang luar biasa besarnya dan berlangsung sepanjang masa.

Penguapan tujuh lapis waktu hampir selalu terjadi di kelas kita yaitu: satu, penguapan lapis pertama terjadi pada jumlah hari kalender sekolah yang ditetapkan secara resmi. Adakalanya sekolah ditutup karena libur tak resmi atau tak terduga, sehingga jumlahnya hari buka sekolah menguap.

Dua, penguapan terjadi pada jumlah hari buka sekolah. Walaupun sekolah buka, belum tentu hari itu terjadi pembelajaran , karena guru rapat, dsb.

Tiga, terjadi pada jumlah hari pembelajaran. Walaupun hari itu terjadi pembelajaran di sekolah, belum tentu pada hari itu guru sepenuhnya berada di kelas.

Empat, terjadi jumlah jam pembelajaran. Walaupun pada jam pembelajaran itu guru berada di kelas, belum tentu selama jam itu terjadi interaksi pembelajaran.

Lima, pada jumlah jam interaksi pembelajaran. Walaupun selama jam itu terjadi interaksi pembelajaran, belum tentu selama jam itu terjadi interaksi riil,yaitu yang terkait langsung dengan materi belajar.

Enam, penguapan lapis keenam terjadi lagi pada jumlah jam riil pembelajaran. Walaupun terjadi interaksi yang riil antara guru-siswa, belum tentu semua siswa aktif dalam interaksi tersebut.

Tujuh, terjadi penguapan pada jumlah jam belajar aktif siswa. Walaupun selama pembelajaran itu tampaknya siswa aktif, belum ada jaminan bahwa semua bahan itu dikuasai oleh siswa secara memadai. Padahal inilah yang menentukan basil belajar.

Penguapan waktu tujuh lapis (PWTL) luar biasa besarnya. Belum lagi jika dihitung berapa besarnya penguapan waktu di rumah,tatkala siswa menonton TV, bermain video game dan lain-lain. Maka jumlah TOT yang tersisa tidaklah seberapa.

Peluang Belajar

Dua,membuka peluang belajar. Waktu yang membuka peluang untuk belajarOpportunities To Learn (OTL) meliputi jumlah dan kualitas bahan belajar yang tersedia, pengalaman belajar dan latihan-latihan yang dikerjakan oleh siswa.

Dapat dibayangkan bagaimana rendahnya basil belajar siswa, jika guru tidak memberikan bahan belajar memadai. Siswa jarang larut dalam pengalaman belajar yang relevan, dan mereka pun jarang pula melakukan latihan-latihan.

Manajemen Kelas

Tiga,Classroom management & climate. Kemampuan guru memonitor kelas, efisien dalam menggunakan waktu, tidak boros dengan waktu transisi, kemampuan mempertahankan perhatian siswa terhadap pelajaran, mampu menangani dua atau lebih kejadian di kelas, mampu mengatasi tindakan tidak disiplin siswa yang hanya membuang TOT merupakan serangkaian kemampuan yang terkait dengan manajemen kelas. Iklim kelas yang tidak membosankan siswa, tetapi sekaligus juga mendorong siswa untuk serius, dimana kerjasama dan kerja individual mendapatkan peluang yang memadai, kompetisi positif terjadi, siswa ingin mencapai prestasi yang terbaik, merupakan sejumlah ciri-ciri iklim kelas yang positif.

Kemampuan guru untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan tentu saja merupakan kemampuan yang penting. Namun perlu diingat jika semuanya itu tidak meningkatkat TOT jangan harap akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Persoalan menjadi serius jika kita hanya menekankan pada senangnya dan kreatifnya tetapi tidak menghitung berapa besar penguapan TOT yang terjadi hanya karena kita ingin membikin murid aktif, kreatif dan bahagia.

Target Kurikulum

Empat, content coverage yang dalam bahasa biasa dipakai guru identik dengan target kurikulum. Yaitu banyaknya isi pelajaran yang relevan yang diselesaikan oleh guru selama pelajaran berlangsung. Atau, jumlah bahan yang diajarkan guru yang juga merupakan bahan yang termasuk dalam kurikulum.

Ada jurang yang lebar antara apa yang dicakup guru dengan apa yang dapat dikuasai dengan benar oleh siswa. Jumlah bahan yang dikuasai oleh siswa pasti jauh lebih kecil daripada apa yang dicakup oleh guru. Di sinilah persoalannya.

Lima, tumpang tindih atau content overlap antara apa yang diajarkan guru dan apa dipelajari siswa dengan apa yang diteskan atau diujikan. Kalau tumpah tindih ini tidak serasi apalagi nihil, maka terjadilah gejala "jauh panggang dari api". Apa yang diajarkan oleh guru tidak bertumpang tindih dengan apa yang dikuasai oleh siswa. Lebih parah lagi tidak bertumpang-tindih dengan soal-soal yang diujikan atau diteskan.

Bagaimana mungkin ia akan lulus?

Singkat kata, tugas guru yang kritis dalam meningkatkan prestasi belajar siswa adalah bagaimana merancang dan mengimplementasikan teknik pembelajaran agar jumlah waktu belajar aktif siswa tinggi, dan agar peluang belajar mencukupi serta dan iklim kelas kondusif. Selanjutnya bagaimana agar keempat elemen itu dirancang dan diwujudkan, sehingga target kurikulum terselesaikan dan tumpah tindih bahan pengajaran dengan bahan evaluasi bertambah serasi.

Buku itu merumuskan dengan baik, dalam satu kalimat, ciri-ciri pembelajaran yang efektif yaitu, "pengajaran yang terstruktur, jumlah jam belajar efektif yang tinggi, peluang berlajar yang besar, dorongan untuk berhasil yang kuat, harapan atau target yang tinggi, dan keterlibatan orangtua (dan komite sekolah) secara aktif dalam program sekolah ".

Lahirnya desentralisasi pendidikan di Indonesia merupakan saat yang dinanti. Kerucut pendidikan sudah mulai bergeser lebih mendekati kotak hitam. Kini kerucut itu ada di kabupaten. Yang lebih penting lagi semoga kerucut itu walau perlahan tapi pasti harus tidak merupakan kerucut terbalik lagi.

Artinya RAPBS, gaji guru, fasilitas fisik dan nonfisik sekolah mengalir dengan deras dalam jumlah yang memadai.
Tak kurang pentingnya kebijakan dan manajemen pendidikan di kabupaten, termasuk yang tercermin antara lain dari porsi APBD haruslah dengan jumlah yang memadai untuk menyibakkan rahasia kotak hitam pendidikan di sekolah dan kelas. Jangan pernah lagi mengikuti dalil kerucut tidak terbalik. Karena guru adalah pelaku yang terpenting dalam dunia pendidikan, maka APBD harus mendukung program manajemen guru termasuk pengembangan professional guru. Melalui motto "ADIDAS" yaitu All Day Indonesia Dream About School, maka tak pelak lagi, dalam UN mendatang, jumlah sekolah yang tidak lulus 100 persen akan jauh berkurang. Semoga.
Ditulis oleh Aria Jalil, PhD - alumnus Sydney University Australia, Spesialis dalam Penelitian Pengajaran (Sumber: Harian Merdeka)
»» Selengkapnya

28 Mei 2008

Pendidikan Harus Berkarakter


PENDIDIKAN kita telah gagal melahirkan manusia. Sekolah memperlakukan peserta didik semata sebagai hard-disk yang siap dimasuki informasi apa saja, tetapi tanpa program untuk mengolahnya. Setiap hari mereka hanya belajar menyimpan informasi ke dalam otak, dan mengingat kembali saat ulangan. Sementara pendidikan agama nyaris tidak ada. Yang disebut sebagai pendididkan agama sebenarnya adalah pelajaran menghafal dengan materi agama, dan dalam partisi otak diberi nama pendidikan atau pelajaran agama. Ini berakibat sangat fatal terhadap perkembangan relegiusitas - lebih khusus lagi spiritualitas - peserta anak didik. Gara-gara penamaan pelajaran menghafal sebagai pendididkan agama, peserta didik mengalami dereligiusitas dan despiritualitas yang menyedihkan.

Model pendididkan yang mereduksi agama menjadi hanya seperti pelajaran bahasa indonesia, IPA atau bahkan lebih rendah dari itu, membuat potensi ruhiyah peserta didik tumpul dan mati. Bertambahnya jam pelajaran agama tidak menambah kekuatan ruhiyah mereka. Sebaliknya justru bisa rentan masalah. Mereka kehilangan kepercayaan pada agama, meskipun mereka tetap beragama. Hari ini, itulah yang sedang terjadi. Anak-anak kita banyak yang mengalami disorientasi hidup.

Reduksi agama tidak boleh diteruskan! Kekuatan ruhiyah peserta didik harus ditumbukan dan dikokohkan, sehingga menjadi penggerak hidup yang sempurna. Agama membangkitkan ideal-ideal, menyucikan maksud, meguatkan tekad untuk bergerak ke arah yang lebih baik, dan memberi makna atas setiap tindakan yang dikerjakannya.

Saya teringat dengan Lorraine Monroe, ketika ia harus menangani SMU dengan latar belakang siswa yang sebagian berantakan, broken home dan hidup dengan logika kekerasan ada dua hal yang ia garap. Pertama membangkitkan high level of expectation (tingkat harapan yang tinggi). Mereka dimotivasi untuk memiliki target-target, tujuan dan cita-cita yang besar. Kedua , meletakkan landasan berupa keyakinan (belief) yang kuat sebagai penggerak untuk melakukan dan mencapai yang terbaik (the spirit of exellence).

Proses untuk membangkitkan kekuatan ruhiyah berupa keyakinan yang kuat kepada Allah, serta kesadaran akan kasih sayang dan kekuasaan Allah harus mencakup semua aspek. Pendidikan dirancang untuk secara seimbang memberi sentuhan yang menggerakkan aspek kognitif, afektif, konatif, psikomotorik, dan spiritual anak. Tidak bisa dipisah – pisahkan. Pendidikan yang hanya menyentuh salah satu aspek saja, akan lemah dan rapuh. Boleh jadi tampaknya kuat, tetapi tidak memiliki landasan psikis yang kuat.

Ambillah contoh sederhana!!! Pembiasaan sholat pada anak jika hanya berhenti sebagai pembiasaan, akan mudah runtuh ketika anak mulai menemukan pemahaman yang berbeda dari apa yang dijalani. Pemahaman merupakan aspek kognitif. Hari ini kita melihat bagaimana anak-anak yang sedari kecil dibiasakan dengan aktifitas relegius, berubah secara drastis begitu mereka bersentuhan dengan komunitas yang berbeda atau wacana yang berbeda.

Hari ini kita juga melihat bagaimana anak-anak yang hanya diaktifkan kemampuan kognitif terendahnya berupa menghafal, bobrok rasa percaya dirinya. Mereka menyerap materi agama, tetapi tanpa rasa, tanpa penghayatan. Akibatnya, pengetahuan mereka banyak, tetapi hampir-hampir tak ada yang diingat ketika mereka menghadapi masalah. Seakan-akan mereka belum pernah bersentuhan sama sekali dengan apa yang tersimpan dalam ingatan mereka. Sebabnya, proses pendidikan yang salah. Perlakuan pendididkan yang mereka terima hanya menyentuh kemampuan terendah kognitif mereka.

Upaya-upaya untuk memberi perlakuan pendidikan yang secara terencana mengaktikan aspek kognitif, afektif, konatif, psikomotorik dan spiritual ini perlu kita mulai saat ini. Proses mematangkan arah pendidikan harus kita pikirkan bersama-sama sedari sekarang, sehingga cita-cita tentang pendidikan islam terpadu tidak hanya berupa bayang-bayang !

Sumber :
Mohammad Fauzil Adhim
Membuka Jalan Ke Surga (Menyempurnakan Nikmat Menuju Hidup Penuh Rahmat)_hal 179
Pustaka Inti, Oktober 2004

(diambil dari blog imam sardjono - makasih pak imam)
»» Selengkapnya