<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725</id><updated>2012-02-16T18:26:56.813+07:00</updated><category term='guru'/><category term='kkg'/><category term='metode pembelajaran'/><category term='pelosok'/><category term='panduan'/><title type='text'>RUANG GURU</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-4447714022544615895</id><published>2010-11-29T08:21:00.000+07:00</published><updated>2010-11-29T08:21:20.066+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='panduan'/><title type='text'>Menjadi Guru yang Dicintai</title><content type='html'>Jika seorang guru memiliki beberapa metode pengajaran yang baru dan memikat, maka ia akan menjadi seorang guru yang dirindukan oleh murid-muridnya. Mereka akan menerima pelajaran yang diberikan dengan hati senang dan antusias. Sehingga, ia menajdi seorang guru yang dicintai murid-muridnya, dan hendaknya dia juga menyayangi mereka. Tidak diragukan lagi, guru yang tidak memiliki sifat kasih terhadap murid, maka ia tidak akan bertahan lama menekuni profesi sebagai seorang guru –kecuali karena terpaksa. Ketenangan hati dan sifat menerima antara guru dan murid-muridnya adalah unsur terpenting dalam proses pendidikan yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pendapat Para Cendekiawan tentang Guru yang Dicintai&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Daniel Comiza berpendapat &lt;span id="more-423"&gt;&lt;/span&gt;bahwa guru yang dicintai adalah sosok yang menerima dengan tulus dan berbahagia –sebelum segala sesuatu- sebagai manusia. Hal ini akan menjadikan dirinya lebih bisa memahami murid-muridnya dan berinteraksi baik dengan mereka. Bahkan, ia akan bangga dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki, serta senang dengan kondisi yang ada di sekitarnya. Hal itu diwujudkannya dengan membantu dan membimbing para murid dengan baik lagi tulus. Dan juga ia berinteraksi dengan semua orang dengan baik dan sikap mulia.&lt;br /&gt;Flandrez berpendapat bahwa ada beberapa sifat yang harus dimiliki seseorang jika ia ingin menjadi seorang guru yang bangga dengan dirinya dan dicintai oleh murid-muridnya. Sifat yang paling dibutuhkannya adalah menerima orang lain, tenang atau bisa mengendalikan emosi, ramah, murah senyum, sabar, dan mampu untuk melakukan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;Murze berpendapat bahwa guru yang dicintai adalah seorang guru yang memiliki sifat ramah dalam berinteraksi kepada sesama, memahami orang lain, menghormati tanggung jawab, disiplin dalam sikap dan tugas-tugasnya, dan mampu berinisiatif dan inovatif.&lt;br /&gt;Sebuah penelitian di Amerika yang dilakukan oleh para ilmuwan Amerika, yang dipimpin oleh Hart Adams menegaskan bahwa ada tiga kelompok yang menjadi sebab seorang guru dicintai murid-muridnya. Tiga kelompok tersebiut adalah:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelompok pertama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Sikap tolong menolong dengan loyalitas tinggi&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Menjelaskan pelajaran dengan baik&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Menggunakan perumpamaan atau contoh dalam menjelaskan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Kelompok kedua&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Berbudi pekerti baik&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Cerdas dan cekatan&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Mampu membuat suasana di dalam kelas menjadi hangat dan menyenangkan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Kelompok ketiga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Arif dan lemah lembut terhadap murid-muridnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Peka terhadap perasaan murid-muridnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Merasa bahwa murid-muridnya adalah teman-temannya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dr. Kamal Dasuki dalam bukunya yang berjudul “Belajar dan Mengajar” menjelaskan tentang beberapa simpulan dari berbagai riset yang dilakukan oleh para peneliti Barat yang diberi tajuk “Siapakah guru yang dicintai menurut para murid?” Diantara penelitian tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Riset yang dilakukan Robert Rowen. Dia berpendapat bahwa guru yang dicintai tidak boleh tidak harus melakukan hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Menjadikan pengajaran sebagai sesuatu yang dirindukan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Menguasai dengan sangat baik materi pelajaran yang menjadi spesifikasinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Mampu berbicara dengan semangat dan penuh antusiasme.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Mampu menyusun dan menertibkan materi ilmiah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Memotivasi dan mensupport murid-muridnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Memiliki jiwa humoris.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Perhatian terhadap murid-muridnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kata-katanya mampu memberikan kenyamanan dalam jiwa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Bersih dan rapi dalam berpakaian.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Riset yang dilakukan Donale Viera menjelaskan, bahwa guru yang dicintai adalah orang yang:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Menjadikan pengajaran sebagai sesuatu yang dirindukan&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Mengenal dan memahami pelajaran diajarkan dengan baik&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Logis dalam tugas-tugasnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Memberikan kesempatan kepada murid untuk berdiskusi dan bertanya&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Memberikan jawaban-jawaban yang masuk akal&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penjelasannya mudah dipahami&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tidak melukai hati murid-muridnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Memiliki jiwa humoris&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sedangkan Lamzon dalam risetnya menyebutkan bahwa seorang guru akan dicintai bila ia memiliki karakter:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Sangat mendalami materi yang menjadi spesifikasinya&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Memiliki ketrampilan yang baik dalam mengajar&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Memiliki jiwa yang memikat dalam menjelaskan pelajaran&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Moderat dan tidak memihak&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Mampu berinteraksi baik dengan murid-muridnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Memiliki sifat ikhlas dan jujur&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Humoris&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penampilannya rapi dan bersih&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Kemudian, Hart juga menambahkan bahwa guru yang dicintai adalah guru yang memiliki sifat:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Menjelaskan pelajaran dengan gamblang dan menggunakan contoh&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Berjiwa humoris dan periang&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sosok yang penuh kasih, hingga kita merasa bahwa dia menjadi bagian dari keluarga kita&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Mampu menggairahkan murid untuk giat belajar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Menghormati tata tertib dalam kelas dan menghargai murid-muridnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Memperhatikan murid-muridnya dan memahami keadaan mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tidak memihak dan bersikap moderat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tidak pemarah&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sabar, penuh kasih-sayang dan peka terhadap lingkungan&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Adil dalam bersikap dan memberikan penghargaan kepada murid-muridnya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Itulah beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para cendekiawan tentang beberapa sikap yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia senantiasa dicintai oleh murid-muridnya.&lt;br /&gt;Sekarang, bagaimana dengan Anda wahai para guru? Adakah keinginan dalam diri Anda untuk menjadi guru yang dicintai oleh murid-muridnya sepanjang masa? Dan seberapa banyak sifat atau karakter yang saya tulis di atas yang kini Anda miliki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Diambil dari blog &lt;a href="http://hakimaza.wordpress.com/"&gt;Abdul &lt;/a&gt;&lt;a href="http://belajar-bareng.tk/"&gt;Hakim&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-4447714022544615895?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/4447714022544615895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=4447714022544615895' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/4447714022544615895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/4447714022544615895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2010/11/menjadi-guru-yang-dicintai.html' title='Menjadi Guru yang Dicintai'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-4819655814517729001</id><published>2010-10-28T07:25:00.000+07:00</published><updated>2010-10-28T07:25:45.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='panduan'/><title type='text'>2 Resep Mengelola Perilaku Siswa</title><content type='html'>Sebagai seorang guru, dalam keseharian di tangan kitalah tanggung  jawab untuk mengelola perilaku siswa. Baik atau buruk perilaku siswa,  tugas kita lah untuk merubah yang buruk dan memelihara hal yang baik  dari siswa. Dalam beberapa tahun terakhir saya sebagai guru saya  menemukan 2 resep yang bisa saya bagi dengan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tegas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mohon bedakan tegas dan galak apalagi kejam, tegas berarti melakukan  kewenangan kita sebagai guru agar siswa mau mengikuti peraturan atau  disiplin yang telah digariskan di kelas dan di sekolah.&lt;br /&gt;Tegas kepada perilaku siswa yang mengganggu iklim di kelas. Hal ini  penting karena kepentingan bersama di kelas adalah untuk belajar dan  mengajar.&lt;br /&gt;Tegas kepada perilaku siswa bukan kepada siswanya. Jika kita tegas  kepada siswa yang terjadi maka hanya kepada siswa-siswi tertentu lah  kita akan tegas, dan bukan pada perilakunya. Tidak heran jika banyak  kelas yang didalamnya ada ‘trouble maker’ sebutan itu ada karena guru  tidak jeli kepada perubahan kecil ke arah lebih baik yang diperbuat oleh  siswa terlanjur mendapat cap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sabar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sikap sabar diperlukan karena kita percaya bahwa siswa cepat atau  lambat akan berubah perilakunya buruknya. Banyak guru yang memilih  mendidik dengan hati dan bukan dengan amarah. Hal ini karena mereka  percaya bahwa apa yang mereka lihat dari siswa mereka sekarang belum  tentu menjadi hal yang kekal saat siswa sudah menjadi dewasa nanti.&lt;br /&gt;Sabar juga bisa berarti doa, saat melihat perilaku yang kurang dari  siswa, jika yang kita lakukan adalah menyumpah dalam hati maka umpatan  kita malah akan menjadi kenyataan. Bersikap sabar juga bisa berarti  mendoakan yang terbaik bagi siswa, mendoakan perubahan sekecil apapun  itu dari siswa kita dikelas.&lt;br /&gt;Sabar membuat hari-hari kita sebagai guru menjadi lebih ringan dan  lebih mudah. Sebaliknya jika kita tidak mempunyai kesabaran maka yang  terjadi dalam banyak kesempatan sebagai guru yang kita lakukan hanya  sibuk mengeluh dan mempertanyakan ‘kenapa’ dan ‘mengapa’ banyak sekali  kekurangan di kelas kita. Bayangkan, maka hari-hari kita akan diisi oleh  rasa pesimis dan lupa akan inovasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-4819655814517729001?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/4819655814517729001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=4819655814517729001' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/4819655814517729001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/4819655814517729001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2010/10/2-resep-mengelola-perilaku-siswa.html' title='2 Resep Mengelola Perilaku Siswa'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-9198582719647853125</id><published>2010-08-13T23:03:00.000+07:00</published><updated>2010-08-13T23:03:55.377+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='guru'/><title type='text'>10 Ciri Guru Profesional</title><content type='html'>&lt;div class="main" style="text-align: left;"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;b&gt;1. Selalu punya energi untuk siswanya &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Punya keterampilan &lt;/b&gt;&lt;b&gt;mendisiplinkan yang efektif &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa&amp;nbsp; mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif,&amp;nbsp; membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi &amp;nbsp;panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Pengetahuan tentang Kurikulum &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga &amp;nbsp;memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;9. Selalu memberikan yang terbaik &amp;nbsp;untuk Anak-anak dan proses Pengajaran &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan&amp;nbsp; mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari situs &lt;a href="http://theapple.monster.com/careers/articles/9144-top-10-qualities-of-a-great-teacher?page=2"&gt;Apple for the teacher&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Ditulis oleh &lt;a href="http://gurukreatif.wordpress.com/"&gt;Agus Sampurno&lt;/a&gt;, Guru SD Global Jaya &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-9198582719647853125?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/9198582719647853125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=9198582719647853125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/9198582719647853125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/9198582719647853125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2010/08/10-ciri-guru-profesional.html' title='10 Ciri Guru Profesional'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-560976860559307972</id><published>2010-08-08T03:07:00.000+07:00</published><updated>2010-08-08T03:07:24.675+07:00</updated><title type='text'>UNEG-UNEG DI BULAN RAMADHAN</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #20124d; text-align: justify;"&gt;Tamu agung akan segera datang, kita akan disibukkan dengan menghias tempat, membuat schedule acara, mempersiapkan banyak sarana dan prasarana untuk kenyamanan tamu kita.Ya sebentar lagi bulan Ramadhan akan tiba, Ramadhan bukanlah sekedar bulan, namun ia penuh dengan keistimewaan dan keberkahan. Hari-harinya dipenuhi dengan rahmat dan maghfiroh Allah SWT, setiap amalan kebajikan akan dilipat gandakan. Maka sudah selayaknyalah kalo kita perlakukan melebihi dari tamu Agung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: Verdana,sans-serif; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Bicara tentang Ramadhan ada beberapa uneg-uneg yang ingin saya sampaikan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: blue;"&gt;Bersilaturrahim.&lt;/b&gt; &lt;span style="color: #20124d;"&gt;Sebelum masuk bulan ramadhan alahkah baiknya bila kita bisa bersilaturahim pada guru, sanak kerabat, teman dll. Kedatangan kita selain bertujuan untuk mempererat persaudaraan juga kita gunakan untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang mungkin kita sengaja ataupun tidak, agar kita bisa lebih siap baik lahir maupun bathin untuk melaksanakan segala bentuk ibadah di bulan Ramadhan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: blue;"&gt;Jangan ribut soal niat puasa. &lt;/b&gt;&lt;span style="color: #0c343d;"&gt;Di sebuah daerah pernah terjadi keributan hanya gara-gara lafal niat puasa yang di baca romadhoo&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;na&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; atau romadhoo&lt;b style="color: blue;"&gt;ni.&lt;/b&gt; Menurutku kalo bicara tentang niat maka mau di baca &lt;i&gt;&lt;b style="color: blue;"&gt;NA&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;&lt;b style="color: blue;"&gt;NI&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;,  niat puasa tetap sah-sah saja, nah kalo bicara kaidah bahasa maka terbaca &lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;NI&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;,&lt;/span&gt; betul memang kata romadhon adalah isim ghoiru munshorif, tetapi dalam lafal niat puasa tersebut diterangkan bahwa yang di maksud romadhon adalah  romadhon tahun ini (Romadhooni Haazdihissanati), maka terjadilah pengecualian.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Jangan balas dendam dalam berbuka&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. &lt;span style="color: #0c343d;"&gt;Berbukalah seperti kalo kita makan biasa di saat tidak menjalankan puasa. Berbukalah dengan setengah gelas air, atau beberapa biji kurma, kemudian makan nasi sesuai ukuran kita(berhenti sebelum kenyang) baru boleh minum bergelas-gelas. Tentang saur yang terpenting adalah setelah saur jangan langsung tidur, tidurlah di pertengahan siang sebelum masuk dhuhur. Silahkan dicoba niscaya badan lebih enak.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: blue;"&gt;Jangan boros dalam berbuka.&lt;/b&gt; &lt;span style="color: #0c343d;"&gt;Penganut ajaran Mormonisme, sebuah sekte Kristiani, mereka  ini rajin puasa seminggu sekali. Selama puasa, sejumlah pengeluaran yang biasa digunakan untuk makan itu mereka sumbangkan untuk kegiatan bakti sosial di seluruh dunia,&amp;nbsp; (termasuk Indonesia pernah mendapat 6 milyar rupiah dari dana ini). Mestinya jika kita tidak boros dan berlebihan kita bisa mempunyai dana yang lebih besar dari mereka, karena kita puasa 30 hari di bulan romadhon, puasa 6 hari&amp;nbsp; di bulan syawal, senin-kemis setiap minggu, dan masih banyak lagi, sedang mereka hanya seminggu sekali…..!&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Tidak semuanya harus baru dan mewah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. &lt;span style="color: #0c343d;"&gt;Di pertengahan bulan kadang karena ingin tampil beda dan juga dianggap mewah kita sibuk di mal untuk belanja beli pakaian dan untuk persiapan lebaran. Mestinya kita semakin  sibuk beribadah, baca qur’an, beriktikaf, dan sebaigainya, karena Allaahpun semakin menjanjikan pahala (lailatulqodar).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Raihlah Lailatul Qodar(malam yang lebih baik dari seribu bulan),&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;span style="color: #0c343d;"&gt;karena itu sangat mudah. Caranya dari awal romadhon hingga akhir romadhon selalu beribadah di malam harinya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Jangan menjadi muslim yang musiman. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: #0c343d;"&gt;Artinya kita rajin ibadah ketika bulan ramadhon aja. Ingatlah bahwa maut bisa menjemput kita, kapan saja dan dimana saja, bukan hanya di bulan romadhoon saja!&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Ini sekedar uneg-uneg yang semuanya tak luput dari kesalahan, semoga ada manfaatnya. &lt;span style="color: #bf9000;"&gt;(Hadinoer/Harbun IT/Humas)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-560976860559307972?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/560976860559307972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=560976860559307972' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/560976860559307972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/560976860559307972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2010/08/uneg-uneg-di-bulan-ramadhan.html' title='UNEG-UNEG DI BULAN RAMADHAN'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-3146972327957594040</id><published>2009-05-12T10:26:00.001+07:00</published><updated>2009-05-12T10:28:52.273+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='panduan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='metode pembelajaran'/><title type='text'>KARAKTERISTIK BELAJAR</title><content type='html'>Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi “pintar” sehingga kursus-kursus atau pun les private secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter &amp; Hernacki (2001), adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual&lt;br /&gt;Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik tandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Rapi dan teratur&lt;br /&gt;• dengan cepat mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik, teliti dan rinci&lt;br /&gt;• mementingkan penampilan&lt;br /&gt;• lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar, mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual&lt;br /&gt;• memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik&lt;br /&gt;• biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar&lt;br /&gt;• sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis)&lt;br /&gt;• merupakan pembaca yang cepat dan tekun lebih suka membaca daripada dibacakan&lt;br /&gt;• dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada&lt;br /&gt;• membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan&lt;br /&gt;• jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti&lt;br /&gt;• selama berbicara lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain&lt;br /&gt;• sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat “ya” atau “tidak’&lt;br /&gt;• lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah&lt;br /&gt;• lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar), daripada musik&lt;br /&gt;• seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial&lt;br /&gt;Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Sering berbicara sendiri&lt;br /&gt;• ketika sedang bekerja mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik&lt;br /&gt;• lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca&lt;br /&gt;• jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras dapat mengulangi atau menirukan nada, irama, dan warna suara&lt;br /&gt;• mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita&lt;br /&gt;• berbicara dalam irama yang terpola dengan baik&lt;br /&gt;• Berbicara dengan sangat fasih&lt;br /&gt;• lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya&lt;br /&gt;• belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat&lt;br /&gt;• senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar&lt;br /&gt;• mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi&lt;br /&gt;• lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya&lt;br /&gt;• lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik&lt;br /&gt;Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Berbicara dengan perlahan&lt;br /&gt;• menanggapi perhatian fisik&lt;br /&gt;• menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian&lt;br /&gt;• berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain,&lt;br /&gt;• banyak gerak fisik&lt;br /&gt;• memiliki perkembangan otot yang baik&lt;br /&gt;• belajar melalui praktek langsung atau manipulasi&lt;br /&gt;• menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung&lt;br /&gt;• menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca&lt;br /&gt;• ketika sedang baca banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal)&lt;br /&gt;• tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama&lt;br /&gt;• sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut&lt;br /&gt;• menggunakan kata-kata yang mengandung aksi&lt;br /&gt;• pada umumnya tulisannya jelek&lt;br /&gt;• menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)&lt;br /&gt;• ingin melakukan segala sesuatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para remaja yang mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk mulai merenungkan dan mengingat-ingat kembali apa karakteristik belajar anda yang paling efektif.&lt;br /&gt;Setelah itu cobalah untuk membuat rencana atau persiapan yang merupakan kiat belajar Anda sehingga dapat mendukung agar kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan memanfaat berbagai media pendidikan seperti tape recorder, video, gambar, blog dll.&lt;br /&gt;Yang manakah tipe Anda?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-3146972327957594040?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/3146972327957594040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=3146972327957594040' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/3146972327957594040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/3146972327957594040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2009/05/karakteristik-belajar-pengkategorian.html' title='KARAKTERISTIK BELAJAR'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-7692600656639254581</id><published>2009-04-01T15:05:00.000+07:00</published><updated>2009-04-01T15:05:04.876+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kkg'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='guru'/><title type='text'>KKG Guru Kelas III di SDN Sarang Burung</title><content type='html'>Sepanjang perjalanan dari sekolah menuju acara Kelompok Kerja Guru Kelas III tingkat SD/MI di SDN Sarang Burung Kecamatan Danau Panggang saya melihat awan keperakan menggantung di langit. Di arah utara, awan hitam berarak pelan. Barangkali mau turun hujan lagi. Semilir angin sejuk menemani perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama saya, beriringan Pak Khairil Anwar, seorang Fasilitator Pendidikan untuk Proyek Pilot Pendidikan yang bersasaran daerah tertinggal seperti Kecamatan Danau Panggang. Kami sama-sama mengendarai sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus lewat jalan memutar, Pak.” Serunya dari arah belakang saya. “Tidak bisa lewat tanggul. Tanahnya becek dan lengket. Sepeda motor bisa amblas di jalan itu.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang, hujan lebat yang turun tadi malam membuat jalan tanggul menuju Desa Sarang Burung yang panjangnya beberapa kilometer itu menjadi becek dan lengket. Saya sendiri sebenarnya belum pernah lewat jalan tanggul. Ini adalah pengalaman pertama kali ke Desa Sarang Burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Sarang Burung seperti beberapa desa terpencil lainnya di Danau Panggang, seringkali berada di tengah-tengah rawa. Penduduknya kebanyakan bermatapencaharian sebagai nelayan air tawar. Jumlah penduduknya juga tidak banyak. Sarang Burung boleh jadi merupakan desa pemekaran dari Desa Telaga Mas, yang letaknya agak lebih dekat ke jalan aspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKG guru kelas III tingkat SD/MI selalu menantang. Sebulan yang lalu saya menjadi narasumber di SDN Longkong. Sekolah ini tak jauh beda dengan SDN Sarang Burung, juga terletak di tengah-tengah rawa. Pengalaman yang tak mungkin terlupa saat itu adalah: saya salah mengambil arah waktu mau pulang. Bukannya menuju jalan besar dan keluar dari Desa Longkong, malahan saya mengarahkan sepeda motor menuju ujung desa yang menurut para penduduk akan menuju Desa Manarap. Ada-ada saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu kita lewat mana, Ril?” Saya memang biasa langsung menyebut nama kepada Pak Khairil Anwar. Saya menanggalkan kata ‘Pak’ di depan namanya. Dia lebih senang dipanggil begitu. Mungkin karena umurnya jauh lebih muda dari saya. Beda sepuluh tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lewat Desa Telaga Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kita lewat titian panjang?” tanya saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khairil mengangguk. Saya tersenyum kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal tahu saja, Desa Telaga Mas dihubungkan dari jalan aspal Alabio-Danau Panggang oleh titian dari kayu ulin yang kondisinya rusak parah. Banyak kayu-kayunya yang telah patah. Khairil sendiri, pernah tercebur bersama sepeda motornya. Walhasil, laptopnya rusak dan hpnya hilang. Terjun bebas ke air rawa yang kedalamannya berkisar dari sedada orang dewasa hingga 2 meteran. Peristiwa itu terjadi sekitar setahun yang silam. Belum lagi masalah mengangkat sepeda motor dari dalam rawa, perlu tenaga beberapa orang penduduk dan peralatan seperti tali atau katrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kamipun tiba di depan titian panjang dari kayu ulin selebar 160cm. Tanpa pagar. Saya meminta Khairil yang duluan di depan, soalnya dia lebih sering lewat sini. Saya sendiri, beberapa kali pernah lewat di titian ini. Alhamdulillah belum pernah jatuh. Cuma ya itu, sering nahan napas dan jantung jadi deg-degan. Bikin gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khairil melaju. Namun, hanya beberapa saat saja segera melambat karena banyaknya bagian titian yang rusak. Bahkan saya yang di belakangnya harus ekstra hati-hati. Bagaimana tidak. Titian itu benar-benar bikin spot jantung. Beberapa kali saya turun dari sepeda motor membetulkan letak papan-papan yang hampir jatuh karena lepas tercabut pakunya. Lihat saja contohnya di foto berikut. Mata saya hanya tertuju pada papan-papan lantai titian itu. Bolong dan patah di mana-mana. Kadang-kadang ban sepeda motor hanya berjalan di atas gelagar (kayu balok ukuran 5cm x 5cm) penyangga papan. Papan-papannya sendiri telah patah dan lepas. Perjalanan menjadi terasa lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata yang takut-takut melintasi titian itu tak cuma saya. Beberapa ratus meter di depan, saya melihat iring-iringan para guru kelas III peserta KKG. Ibu-ibu guru terpaksa menuntun sepeda motor. Beberapa yang berboncengan juga harus turun. Perjuangan yang luar biasa untuk sebuah kegiatan KKG? Saya pernah mempertanyakan kepada mereka mengapa KKG kadang-kadang diadakan di tempat yang sulit dijangkau. Jawab mereka, “Agar ada pergantian tempat saja. Guru-guru lain biar tau bagaimana kondisi sekolah-sekolah yang terpencil. Biar sekolah-sekolah yang terpencil itu juga mendapat kesempatan didatangi pihak-pihak terkait semacam pengawas, atau orang-orang Dinas Pendidikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati Desa Telaga Mas, kamipun akhirnya memasuki Desa Sarang Burung. Sebuah desa di atas air. Rumah-rumah panggung berjejer di kanan kiri titian. Anak-anak usia sekolah yang tak bersekolah bermain-main di beranda rumah. Rupanya banyak anak yang putus sekolah atau barangkali memang tak pernah sekolah. Penasaran apakah mereka murid kelas I dan II yang sudah pulang sekolah? Saya tengok jam di hp dalam saku celana, saat itu masih jam sembilan pagi. Saya coba berpikir positif, anak-anak itu tentu anak-anak kelas I dan II yang dipulangkan lebih awal karena ruang kelas mereka dipakai untuk kegiatan KKG nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang dituju akhirnya terlihat juga di depan mata saya. Ada banyak anak-anak berseragam merah putih. Beberapa guru peserta KKG berbincang-bincang dan hamparan enceng gondok di tengah-tengah halaman sekolah yang berbentuk huruf U.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu beberapa peserta lain akhirnya acara KKGpun dilaksanakan. Semua berjalan lancar seperti yang diharapkan, kecuali para petugas konsumsi yang terjebak di jalan tanggul yang becek dan lengket. Oleh sebab itu, acara makan siang setelah KKG selesai sedikit agak tertunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh &lt;a href="http://suhadinet.wordpress.com/"&gt;Suhadi&lt;/a&gt;, seorang guru IPA SMP di suatu pelosok Kalimantan Selatan, yaitu SMP Negeri 4 Danau Panggang, pada 20 Maret 2009.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-7692600656639254581?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/7692600656639254581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=7692600656639254581' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/7692600656639254581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/7692600656639254581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2009/04/kkg-guru-kelas-iii-di-sdn-sarang-burung.html' title='KKG Guru Kelas III di SDN Sarang Burung'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-5847614887230571794</id><published>2009-03-24T14:55:00.000+07:00</published><updated>2009-03-24T14:56:35.107+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='metode pembelajaran'/><title type='text'>Mengubah Cara Bukan Isi</title><content type='html'>Akan tiba saatnya sekolah tidak lagi terkungkung pada empat tembok yang membatasi. Tapi akan meluas dan melewati batas yang ada sekarang. Banyak sekali tipe kurikulum yang sudah dirancang dan diluncurkan namun sedikit banyak siswa-siswi kita sekarang bukan lah menjadi pengguna atau sasaran yang tepat dari kurikulum-kurikulum tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa dan siswi kita sekarang tumbuh dalam dunia pertumbuhan dunia digital yang sangat cepat. Ada yang mengatakan perbandingannya 1:7 artinya satu tahun didunia nyata sama dengan 7 tahun di dunia digital. Sebuah percepatan yang luar biasa. Apa mau dikata siswa dan siswi kita berpikir dan berbicara dalam bahasa yang berbeda dengan kita. Mereka adalah pemilik dan penduduk asli dunia digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;Digital Natives&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah mereka? Mereka adalah individu yang lahir antara tahun 1990 sampai sekarang. Menurut Marc Prensky mereka adalah yang menghabiskan hidupnya dengan berbicara dan mengirim pesan lewat telepon genggam, mendengarkan musik, menggunakan pemutar music digital. Bermain video games atau mengobrol lewat internet sampai berjam-jam. Singkat kata hidup mereka dikelilingi oleh alat-alat digital (&lt;em&gt;gadget&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda mengajar mereka jangan bayangkan suasana kelas yang tenang dan senyap, yang terjadi terkadang mereka terdengar gaduh dikarenakan biasa berkolaborasi satu sama lain, serta melakukan segalanya saat bersamaan &lt;em&gt;(multitasking).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;Digital Immigrants&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah individu yang lahir antara tahun 1960 sampa 1980. Analogi gambar sebuah kamera digital akan menjelaskan fenomena tipe penduduk ini di dunia digital.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Digital Immigrants&lt;/em&gt; akan mengatakan bahwa kamera digital adalah kamera digital, karena pernah mengenal kamera yang belum menjadi digital, ingat kamera yang menggunakan roll film yang kemudian dicetak dan memakan waktu untuk melihat karena harus menunggu beberapa lama. Sementara kaum &lt;em&gt;digital natives&lt;/em&gt; akan mengatakan kamera digital adalah kamera tanpa embel-embel digital, dikarenakan saat mereka lahir yang ada hanyalah kamera jenis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang perbedaan jurang antara dua generasi ini kerap menimbulkan masalah, padahal siswa-siswi kita yang nota bene adalah &lt;em&gt;digital natives&lt;/em&gt; akan senang sekali jika kita (&lt;em&gt;digital immigrants&lt;/em&gt; alias guru dan orang dewasa yang ada di sekitar mereka) menunjukkan minat pada hal-hal yang berbau digital dan bisa menjadi pegangan dan tempat mereka bercerita dan berbagi mengenai pengalaman mereka sehari-hari di dunia digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab apakah kita tidak merasa iba jika mereka yang harus belajar dengan gaya &amp;#8216;lama&amp;#8217; (tanpa teknologi) ingat metode &lt;em&gt;chalk&lt;/em&gt; and &lt;em&gt;talk &lt;/em&gt; sementara tantangan buat mereka di masa depan akan jauh lebih berat dari yang kita hadapi sekarang. Ingat pendidikan adalah membekali siswa kita ke masa depan dengan cara yang juga &amp;#8216;baru&amp;#8217; tentu. Contoh nyata yang mungkin bisa kita lihat sekarang adalah banyaknya bidang pekerjaan yang kemudian hilang tapi juga kemudian banyak muncul ragam profesi yang dahulu bahkan belum pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara menuju keseimbangan antara dua generasi ini, dan bukannya tidak mungkin harmonisasi ini akan melahirkan generasi yang cakap teknologi sekaligus mempunyai kemampuan beretika yang matang dan dibutuhkan dalam kehidupan sebenarnya di masa depan. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa anda tempuh;&lt;br /&gt;&lt;ol type="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Saat membelajarkan siswa gunakan keingintahuan mereka atas sebuah pengetahuan yang baru sebagai arah dalam pembelajaran. Kemudian lakukan pembuatan perencanaan pembelajaran yang memfasilitasi keingin tahuan tersebut, tentunya dalam batas kurikulum yang menjadi acuan anda.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Buatlah proyek pembelajaran dimana setiap siswa bisa memberikan pendapat, pandangan bahkan masukan atas karya milik rekannya. Dengan demikian Anda melatih mereka untuk berkolaborasi. Sebuah hal yang sangat penting yang dibutuhkan di abad 21.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Terapkan prinsip inovasi, kolaborasi, keberagaman, keterampilan dan kesadaran sebagai warga global saat menggunakan teknologi dalam memperkaya pembelajaran. Dijamin siswa akan senang melakukan beberapa peran sekaligus saat yang sama yaitu;      sebagai pengarang atau pencipta produk pembelajaran mereka, menjadi mentor saat memberi masukan kepada rekannya, yang terakhir menjadi ahli dalam menjelaskan produk pembelajaran yang dihasilkannya.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Silahkan memilih &amp;#8216;alat&amp;#8217; atau &lt;em&gt;tools&lt;/em&gt; untuk anda gunakan bersama siswa anda di kelas. Ada wiki, blog, youtube dan lain-lain&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mari tinggalkan cara lama agar siswa bisa terinspirasi dan merasa terikat dengan kelas pembelajaran yang kita lakukan. Beberapa hal yang kita bisa lakukan adalah; mencermati keberagaman siswa-siswi Anda dalam segala hal. Mencari terus dan berinovasi dalam ilmu pedagogi yang cocok untuk pembelajaran bagi &lt;em&gt;digital natives&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih tipe pengujian (&lt;em&gt;assessment&lt;/em&gt;) mana yang cocok untuk siswa-siswi kita di jaman ini. Menyiapkan  kurikulum anda disekolah, apakah sudah menyiapkan siswa untuk menghadapi abad 21 yang bertumpu pada subyek inti yang ada sekarang, keterampilan berpikir dan belajar bagaimana belajar, keterampilan teknologi dan keterampilan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian wahai para guru, mari mengubah cara bukan isi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh &lt;a href=http://gurukreatif.wordpress.com&gt;Agus Sampurno&lt;/a&gt;, guru Sekolah Global Jaya, Tangerang&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-5847614887230571794?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/5847614887230571794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=5847614887230571794' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/5847614887230571794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/5847614887230571794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2009/03/mengubah-cara-bukan-isi.html' title='Mengubah Cara Bukan Isi'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-8827796386489328965</id><published>2008-09-04T11:24:00.005+07:00</published><updated>2009-03-24T14:59:56.898+07:00</updated><title type='text'>Perlu Keterpaduan Dalam Pendidikan Agama Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_mNsPZTsPMmY/SMClgZ_0jjI/AAAAAAAAAIs/_2Efou6jVK0/s1600-h/MySelf.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_mNsPZTsPMmY/SMClgZ_0jjI/AAAAAAAAAIs/_2Efou6jVK0/s200/MySelf.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242371942412226098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Abdul Haris Zuhad, S.Pd.I&lt;br /&gt;(Guru PAI Kelas V Umar SDIT Harapan Bunda Semarang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang berkomentar bahwa system pembelajaran mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) berbeda dengan mata pelajaran yang lainnya, sebagian menganggap lebih rumit karena output dari pembelajaran agama Islam adalah perbaikan dan peningkatan ibadah, akhlak dan pengetahuan siswa terhadap pengetahuan keIslaman. Jika hanya mengandalkan jumlah jam pertemuan di kelas maka bisa dikatakan mustahil mewujudkan hasil pembelajaran yang demikian. Tidak bisa dipungkiri bahwa adanya mata pelajaran PAI adalah sebagai penyeimbang mata pelajaran yang lain dalam rangka membentuk karakter anak didik dan memberikan pengaruh positif bagi anak didik dalam beramal sholih, berakhlak mulia dan bersopansantun sesuai dengan ajaran agama Islam. Permasalahannya adalah, apakah cita-cita agung tersebut pasti bisa diraih dengan hanya memberikan 2 jam pelajaran di setiap pekannya? &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab permasalahan itu, sebaiknya kita melihat kembali bagaimana karakter seseorang itu bisa dibentuk. Rasulullah saw menggambarkan seorang anak bagaikan secarik kertas yang bersih tanpa tulisan apapun, orang tuanya lah yang akan menentukan apakah ketika dewasa menjadi yahudi atau majusi bahkan menjadi pribadi muslim yang sempurna. Bukti teori pendidikan sudah digulirkan oleh Rasulullah jauh sebelum para ahli pendidikan berbicara masalah pendidikan anak. Dalam hal ini penulis memahami bahwa yang dimaksud dengan orang tua disini mempunyai 3 aspek; orangtua yang melahrikan dan merawat si anak dalam hal ini ayah dan ibu; orang tua yang memberikan pengajaran di lingkungan sekolah, yakni para guru dan ustadz; serta orang lain yang dianggap oleh anak sebagai contoh atau panutan di masyarakat atau dunia pergaulannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, jika melihat realitas saat ini, sekolah belum melengkapi kebutuhan si anak didik dalam rangka memberikan pembelajaran tentang karakter atau pribadi muslim yang sempurna. Apalagi hanya 2 jam pelajaran sangat kurang tentunya untuk memberikan pemahaman dan membentuk karakter muslim yang kuat, ditambah lagi jika ada kendala-kendala teknis seperti mutu guru PAI yang kurang profesional dan cara penyampaian yang kurang efektif, maka bisa dibilang kalau pembelajaran PAI dengan 2 jam pelajaran seperti tidak ada pengaruhnya ke anak didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah bisa menyiasati permasalahan ini dengan membuat sebuah sistem Pendidikan Agama Islam yang terpadu, dalam artian bagaimana guru me-manage pola asuh anak didik dengan sebaik-baiknya, dalam hal ini guru ikut serta memantau anak didik tidak hanya di sekolah akan tetapi juga di rumah dan di masyarakat. Aplikasi dari konsep ini seperti ketika guru ingin melihat bagaimana kebiasaan anak didik ketika di pagi hari, begitu selesai shalat subuh guru menelpon anak didik untuk dicek, tidak perlu setiap hari, jika perlu jadikan itu program pekanan dengan agenda menelpon 5-8 anak setiap pekan. Sedangkan bentuk pemantauan di masyarakat bisa dengan membuka komunikasi dengan masing-masing orang tua anak didik sehingga guru mengetahui kebiasaan dan teman-teman bermain ketika di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencoba untuk memberikan perhatian ke anak didik, konsep keterpaduan selanjutnya adalah seorang guru harus mampu memberikan tampilan pembelajaran yang terbaik, bukan hanya sebatas tampilan ketika di depan kelas, akan tetapi kelihaian seorang guru untuk bisa menyusun sebuah materi pembelajaran yang aplikatif, dalam hal ini seorang guru harus memahami bahwa semua ilmu adalah bersumber dari Allah SWT, tidak ada dikotomi mata palajaran, kalau perlu pada saat pelajaran PAI guru harus mampu mengembangkan ke ranah pelajaran umum, seperti halnya jika menjelaskan tafsir Surat Al-Mukminuun ayat ke 12-14 tentang bagaimana Allah menciptakan manusia, pada kondisi demikian, guru PAI harus mampu mengembangkan atau minimal mengetahui bagaimana teori janin yang ada dikandungan yang ada di ilmu kesehatan (biologi). Jika model pembelajaran seperti ini dapat di laksanakan dan dengan sentuhan-sentuhan kreatifitas pembelajaran, maka anak didik akan mendapatkan masukan ilmu yang komprehensif dan terpadu antara ilmu agama (dalil al-Quran) dan ilmu biologi (janin manusia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, keterpaduan yang penulis maksud dalam tulisan ini adalah adanya sebuah kesamaan visi dan didukung oleh lembaga pendidikan dalam hal ini struktur sekolah dan setiap guru yang mengajar di lingkungan sekolah. Semua penyelenggara pendidikan harus mempunyai kesamaan tujuan dan cita-cita untuk memberikan pendidikan yang sempurna untuk anak didiknya, kesempurnaan ini bisa dituangkan dalam program-program pendidikan yang merangsang perkembangan fikriyyah (pola pikir anak didik), ruhiyyah (kecerdasan spiritual) dan jasadiyyah (perkembangan fisik anak didik). Syarat mutlak untuk mewujudkan keterpaduan pendidikan ini adalah adanya lingkungan pendidikan yang kondusif dimana setiap guru mampu menjadi teladan bagi anak didiknya, bagaimana mungkin anak didik bisa bersikap jujur (shiddiq) jika setiap hari dia melihat dan mendengar berbagai kebohongan yang ada di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian wacana konsep keterpaduan yang penulis tawarkan, semoga bisa menjadi referensi bagi aktivis pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik di negri ini. Khususnya bagi para guru PAI, yang mempunyai tanggungjawab besar untuk memberikan panduan beragama Islam yang benar kepada anak didiknya. &lt;em&gt;Wallahu A’lamu bi showab&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-8827796386489328965?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/8827796386489328965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=8827796386489328965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/8827796386489328965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/8827796386489328965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/09/perlu-keterpaduan-dalam-pendidikan.html' title='Perlu Keterpaduan Dalam Pendidikan Agama Islam'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_mNsPZTsPMmY/SMClgZ_0jjI/AAAAAAAAAIs/_2Efou6jVK0/s72-c/MySelf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-3427112158894501125</id><published>2008-08-16T01:21:00.000+07:00</published><updated>2008-08-16T01:21:00.319+07:00</updated><title type='text'>Parkir Motor vs Sekolah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_mNsPZTsPMmY/SKJhqJnvTNI/AAAAAAAAAHQ/TqqBy7SeTbY/s1600-h/KangHakim.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 72px; height: 97px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_mNsPZTsPMmY/SKJhqJnvTNI/AAAAAAAAAHQ/TqqBy7SeTbY/s320/KangHakim.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233853093722934482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mungkin anda bertanya-tanya, kenapa saya mengambil judul tersebut. Ada apa dengan parkir motor dan sekolah? Apakah ada hubungan di antara keduanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita dengar, bahwa biaya pendidikan di Indonesia terbilang cukup tinggi (khususnya bagi sekolah swasta). Sehingga para orang tua cukup dipusingkan dengan masalah tersebut. Bahkan bagi sebagian orang pendidikan dijadikan nomor kesekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, mari kita berhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tetangga saya berprofesi sebagai penyalur (detailer) obat. Tiap hari ia harus berkeliling, dari satu tempat praktek dokter yang satu ke dokter yang lain. Dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain. Begitu seterusnya, tiap hari dalam satu bulan. Dalam sehari, ia bisa mengunjungi 10 dokter dan 2 rumah sakit. Taruhlah, biaya sekali parkir adalah Rp 1.000 dan dalam satu bulan ada 25 hari kerja. Maka dapat dihitung, dalam satu bulan ia harus mengeluarkan uang untuk biaya parkir sebesar Rp 300.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, bagi Anda yang perokok. Misalkan dalam sehari Anda menghabiskan 1 bungkus rokok dengan harga Rp 4.000. Maka dalam satu bulan, Anda telah membakar uang tak kurang dari Rp 120.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah tersebut, tentu jauh lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah spp atau iuran pendidikan anak kita dalam 1 bulan hanya kisaran Rp 50.000 - 100.000. Sudah begitu, anak kita di sekolah tidak hanya didiamkan sebagaimana tukang parkir akan mendiamkan motor yang kita parkir. Sekolah akan memberikan ilmu pengetahuan kepada anak kita, memberikan mereka ketrampilan hidup dan ketrampilan sosial. Sehingga mereka mampu hidup di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang. Kalau kita rela merogoh kantong untuk biaya parkir motor, rela membakar uang dengan merokok. Tidakkah kita rela menyisihkan pendapatan untuk pendidikan anak-anak kita? Untuk masa depan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan pilih, parkir motor, rokok atau pendidikan anak. Semua tergantung Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh &lt;a href="http://abahetika.blogspot.com/"&gt;abahetika&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-3427112158894501125?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/3427112158894501125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=3427112158894501125' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/3427112158894501125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/3427112158894501125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/08/parkir-motor-vs-sekolah.html' title='Parkir Motor vs Sekolah'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_mNsPZTsPMmY/SKJhqJnvTNI/AAAAAAAAAHQ/TqqBy7SeTbY/s72-c/KangHakim.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-246377034786510237</id><published>2008-08-13T09:15:00.003+07:00</published><updated>2008-08-13T09:25:25.826+07:00</updated><title type='text'>Karakter Bangsa</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Ada sebuah ungkapan 'jumlah anak-anak hanya 25% dari total penduduk, tetapi menentukan 100% masa depan bangsa'.Itu berarti maju tidaknya sebuah bangsa sangat tergantung pada kualitas generasi mudanya. Thomas Lockana, profesor pendidikan dari Cortland University, mengungkapkan ada tanda-tanda zaman bagi kehancuran suatu bangsa yaitu:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;meningkatnya kekerasan di kalangan remaja,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;penggunaan bahasa dan kata yang memburuk,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;meningkatnya perilaku yang merusak diri (narkoba,seks bebas, alkohol).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;penurunan etos kerja,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;ketidak jujuran yang membudaya,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Dengan adanya berita yang sering terdengar tentang kenakalan, tawuran, kriminalitas remaja, kita boleh menilai apakah bangsa kita sudah memiliki 'tanda-tanda zaman' tersebut. Jika benar adanya, apakah bangsa kita sudah dekat dengan kehancuran? Terjadinya dekadensi moral pada generasi muda adalah cerminan dari krisis karakter dari seluruh bangsa.&lt;br /&gt;Seluruh manusia dilahirkan dalam keadaan suci, berakhlak baik atau buruk sangat tergantung pada bagaimana ia dididik dan dibesarkan lingkungannya (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;keluarga, sekolah, masyarakat&lt;/span&gt;). Coba bayangkan, lingkungan tempat generasi muda kita dibesarkan sedang mengalami krisis multidimensi, krisis moral yang parah (budaya KKN yang sudah mengakar, kebohongan publik, fitnah, konflik keluarga, pertikaian multietnis, agama, golongan dsb).&lt;br /&gt;Bagaimana kita akan menciptakan masa depan yang cerah kalau anak-anak dibesarkan dalam lingkungan seperti itu?????&lt;br /&gt;Fancis Fukuyama mengatakan, bangsa yang bisa maju adalah yang mempunyai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;social capital&lt;/span&gt;, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;high trust society&lt;/span&gt;, cirinya adalah masyarakat yang individunya bisa dipercaya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;High trust society &lt;/span&gt;adalah karakter bangsa yang nilai-nilai integritas, kerjasama, tenggang rasa, etos kerja tinggi, dan amanah (jujur dan tanggung jawab) menjadi corak perilaku kehidupan.&lt;br /&gt;Permasalahan karakter bangsa adalah masalah penting yang harus ditangani kalau kita ingin mencegah bangsa ini dari kehancuran.&lt;br /&gt;Tulisan ini merupakan ungkapan hati seorang pendidik ibu Ratna Megawangi,Ph.D dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Semua Berakar Pada Karakter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;PR besar bagi kita untuk merubah paradigma pendidikan kita agar tidak cognitif oriented, baik di rumah di sekolah maupun di masyarakat ....&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:120%; font-weight:bold;"&gt;AYO KITA BISA!!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://umiezufar.blogspot.com/"&gt;Mata Pena&lt;/a&gt; - Sri Purwaningsih&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-246377034786510237?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/246377034786510237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=246377034786510237' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/246377034786510237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/246377034786510237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/08/karakter-bangsa.html' title='Karakter Bangsa'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-4818858048424870556</id><published>2008-07-21T13:15:00.002+07:00</published><updated>2008-07-21T13:22:58.956+07:00</updated><title type='text'>Skala Kebijaksanaan Orang Tua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sditharbun.googlepages.com/baby.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px;" src="http://sditharbun.googlepages.com/baby.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Devi cemberut setelah dimarahi Papanya. Ia merasa sangat butuh Papanya untuk membantu.Tetapi malah diminta mengerjakan sendiri.&lt;br /&gt;"Kalau tahu akhirnya toh diminta mengerjakan sendiri ngapain repot-repot menunggu Papa selesai. Huhhh menyebalkan! Papa menyebalkan!", gerutunya dalam hati.&lt;br /&gt;Sementara sang papa kembali melanjutkan aktivitasnya. Tetapi pikirannya tidak bisa fokus pada apa yang dikerjakannya. Ia pun tak tahu apa yang membuatnya punya perasaan seperti itu.&lt;br /&gt;Siang berganti sore dan dengan cepat sore berganti malam. Seisi penghuni rumah Devi tertidur lelap. Tetapi Papa Devi tak bisa memejamkan mata secara sempurna.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia mendengar suara halus dari dalam hatinya. Suara itu menegurnya dengan lemah lembut namun penuh ketegasan. "Engkau marah dengan dirimu sendiri tapi engkau tumpahkan pada anakmu yang tak tahu apa-apa. Sebenarnya kemarahanmu pada Devi tak perlu terjadi. Engkau bingung bagaimana harus menghadapi Devi bukan? Selama ini engkau tak pernah punya waktu untuk memikirkan strategi mendidik dan mengelola anak-anakmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalaman ia tidak dapat tidur nyenyak. Ia merasa telah berbuat banyak untuk anaknya. Ia sudah membiayai sekolah dan kursus Devi. Ia membelikan berbagai keperluannya, mengajaknya berlibur, menemaninya bermain, tapi sepertinya masih ada yang kurang. Seribu pertanyaan lagi masih menggantung di pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dialami ayah Devi banyak dialami orangtua lain. Mereka semua tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Semua pada bingung harus bagaimana. Ada banyak sekali tawaran tentang konsep pendidikan anak di luar sana. Semuanya laris manis. Mulai dari lagu yang bisa menstimulasi otak bayi sampai pendidikan super yang akan membuat anak kita menonjol dibanding anak lain. Dan semuanya dilatarbelakangi hasil penelitian ilmiah yang mutakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa jadinya? Orangtua menjadi terprovokasi dan laris manislah semuanya. Segala bisnis yang menyangkut anak, mulai dari keperluan bayi, mainan edukatif, buku bergambar, musik edukatif sampai sekolah berbahasa asing yang mempunyai berbagai fasilitas mentereng mulai bermunculan. Semuanya dikarenakan adanya permintaan pasar.&lt;br /&gt;Lebih tepatnya semua dikarenakan banyaknya orangtua yang bingung bagaimana harus mendidik anaknya. Orangtua kebanyakan ingin semuanya cepat beres. Mereka tak sempat lagi berpikir mana yang esensial bagi anaknya. Ketika teori-teori hasil penelitian ilmiah disampaikan sebagai latar belakang suatu produk atau jasa maka mereka langsung terbuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para orangtua sendiri tidak mempunyai pengetahuan yang cukup memadai untuk menilai produk yang ada di pasar. Mereka hanya menilai segala sesuatu dari seberapa cepat hasilnya tampak pada anak mereka. Jika itu memakan waktu lama, bertahun-tahun misalnya, maka mereka akan menganggap produk itu tidak bagus.&lt;br /&gt;Orangtua disibukkan berburu produk yang bagus untuk anaknya. Mereka sibuk menilai berbagai produk dan jasa yang akan digunakan untuk anaknya. Waktu mereka habis untuk hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua tidak menyadari bahwa kemampuan mereka menilai produk dan jasa sebanding dengan dalamnya pengetahuan yang mereka miliki tentang psikologi tumbuh kembang anak beserta segala aspeknya. Jadi setiap orang pastilah mendapatkan manfaat dari segala macam produk tersebut tergantung dari seberapa dalam kita mengerti tentang produk tersebut. Kebanyak orangtua lupa untuk mengedukasi dirinya sendiri agar mampu memilih sesuatu yang baik bagi anaknya. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan pengetahuan dari orangtua mereka. Atau informasi sepotong-sepotong dari majalah dan teman yang memilki kasus serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua sibuk meminta anak-anaknya belajar segala sesuatu tetapi mereka sendiri lupa untuk belajar. Padahal wawasan luas yang dimiliki orangtua menentukan pendidikan dan pengasuhan seperti apa yang akan diterima anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah mari kita misalkan segala pengetahuan yang diperlukan untuk mendidik anak diberi skala dari satu sampai sepuluh. Sepuluh adalah skala terbaik. Orangtua yang memiliki pengetahuan mendidik anak di skala 4 akan memperlakukan anaknya dengan cara yang berbeda sama sekali dibanding orangtua yang memiliki skala 8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak dengan orangtua skala 4 akan mengalami perlakuan yang berbeda dengan anak yang orangtuanya berskala 8. Di manakah skala anda ?&lt;br /&gt;Banyak orangtua menanyakan, "Bagaimana caranya menilai kemampuan diri sendiri untuk menangani anak?"&lt;br /&gt;Mudah sekali. Ada beberapa hal penting yang patut kita kuasai sebagai dasar untuk membimbing anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah beberapa hal penting dan mendasar yang perlu dikuasai dengan mendalam agar bisa mendidik anak kita menjadi sukses dan bahagia :&lt;br /&gt;• Mengenali diri sendiri dengan baik dan mampu mengelola emosi sendiri. Jika sebagai orangtua kita tidak mampu mengenali diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik bagaimana kita bisa mengerti dan memahami orang lain (anak kita)&lt;br /&gt;• Memiliki persepsi yang benar tentang mendidik dan mengasuh anak. Persepsi yang benar bisa dicapai jika kita mengerti cara berpikir yang benar dan mempunyai pengetahuan luas tentang anak-anak&lt;br /&gt;• Mengerti tentang mekanisme pikiran dan fungsi otak sehingga kita mampu mempertimbangkan setiap tindakan dan ucapan&lt;br /&gt;• Mengerti bagaimana pikiran memroses informasi dan pengalaman serta dampaknya di masa depan anak&lt;br /&gt;• Kemampuan berkomunikasi yang bagus sehingga mampu menyampaikan maksud baik kita kepada anak tanpa distorsi makna. Semua orangtua bermaksud baik terhadap anaknya tetapi seringkali anak memaknainya dengan salah karena cara komunikasi yang tidak tepat&lt;br /&gt;• Mengenali tipe kepribadian anak sehingga mampu interaksi anak-orangtua berjalan dengan baik&lt;br /&gt;• Mengenali tipe dan gaya belajar anak sehingga kita mampu mengarahkan anak mencapai prestasi opitmal di bidang akademis&lt;br /&gt;• Mengerti setiap proses tumbuh kembang anak serta apa yang diperlukan di setiap proses&lt;br /&gt;• Kemampuan membantu anak mengatasi trauma sederhana&lt;br /&gt;• Kemampuan membantu anak mengatasi masalah emosional dan membantunya memiliki kontrol diri yang baik&lt;br /&gt;• Kemampuan membantu anak mengembangkan disiplin yang sehat tanpa merusak harga dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: www.sekolahorangtua.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-4818858048424870556?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/4818858048424870556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=4818858048424870556' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/4818858048424870556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/4818858048424870556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/07/skala-kebijaksanaan-orang-tua.html' title='Skala Kebijaksanaan Orang Tua'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-5532195503908131427</id><published>2008-07-21T08:39:00.001+07:00</published><updated>2008-07-21T08:41:36.403+07:00</updated><title type='text'>Penyebab Prestasi Akademik Anjlok</title><content type='html'>PENYAKIT rendah mutu prestasi belajar sudah lama diidap oleh pendidikan di Indonesia. Ironisnya gejala penyakit ini mulai muncul ketika gencar mengadakan perbaruan pendidikan. Berapa kali sudah berganti kurikulum dan buku pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitunglah berapa kali penataran guru dilakukan. Berapa banyak sudah guru yang meningkat kualifikasinya: dari SPG ke D1,D2, D3 dan bahkan hingga S 1 dan S2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi belajar siswa akan meningkat jika gurunya mendapatkan penataran dan atau kualifikasinya meningkat. Walau begitu yang terjadi hasil ujian nasional (UN) umumnya mengecewakan. Bahkan di sejumlah sekolah ada siswanya yang tidak lulus 100%, pada hal batas kelulusan itu hanya 4.26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah angka sebesar itu sesungguhnya masih termasuk kategori berwarna merah?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnyalah tidak sulit menemukan masalahnya. Dengan nalar yang biasa saja kita mampu untuk mengungkapkan faktor penyebab penyakit rendah prestasi belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah dan di kelas kita menemukan informasi yang dapat mengungkapkan sebab-musabab jatuhnya pendidikan Indonesia. Di sekolah dan di kelas terekam interaksi antara guru - siswa - bahan ajar dengan lingkungan sekolah dan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan terhadap pendidikan (sekolah) juga ibarat kerucut terbalik. Semua proyek dengan dana besar menumpuk di pusat. Sebagian terbesar dosen, guru dan tenaga kependidikan yang bagus menumpuk di pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua kebijakan pendidikan pun menumpuk di pusat. Apa yang sampai di sekolah tak lebih ibarat tetesan air yang jatuhnya perlahan dan tidak teratur, serta sulit diramalkan kapan menetesnya. Dengan tetesan kecil dan tidak teratur itu, mana cukup untuk menyiram benih (peserta didik yang baru masuk), apalagi untuk mengairinya (meningkatkan mutu guru dan siswa) secara teratur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, buku yang berjudul Teaching Effectiveness and Teacher Development yang diedit oleh Cheng, Mok dan Tsui (2001) mengungkapkan jawabannya. Time On Task (TOT) merupakan kekuatan dahsyat untuk mendongkrak prestasi akademik siswa (PAS). TOT adalah jumlah waktu siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin banyak waktu yang betul-betul dipakai oleh siswa dalam proses pembelajaran maka akan meningkat pula prestasi akademiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malangnya penguapan waktu atau pemubaziran waktu dalam sistem pendidikan dan persekolahan di Indonesia diperkirakan sama dahsyatnya dengan penguapan kekayaan rakyat Indonesia. Ini terjadi dalam jumlah yang luar biasa besarnya dan berlangsung sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguapan tujuh lapis waktu hampir selalu terjadi di kelas kita yaitu: satu, penguapan lapis pertama terjadi pada jumlah hari kalender sekolah yang ditetapkan secara resmi. Adakalanya sekolah ditutup karena libur tak resmi atau tak terduga, sehingga jumlahnya hari buka sekolah menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua, penguapan terjadi pada jumlah hari buka sekolah. Walaupun sekolah buka, belum tentu hari itu terjadi pembelajaran , karena guru rapat, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga, terjadi pada jumlah hari pembelajaran. Walaupun hari itu terjadi pembelajaran di sekolah, belum tentu pada hari itu guru sepenuhnya berada di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat, terjadi jumlah jam pembelajaran. Walaupun pada jam pembelajaran itu guru berada di kelas, belum tentu selama jam itu terjadi interaksi pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima, pada jumlah jam interaksi pembelajaran. Walaupun selama jam itu terjadi interaksi pembelajaran, belum tentu selama jam itu terjadi interaksi riil,yaitu yang terkait langsung dengan materi belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam, penguapan lapis keenam terjadi lagi pada jumlah jam riil pembelajaran. Walaupun terjadi interaksi yang riil antara guru-siswa, belum tentu semua siswa aktif dalam interaksi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh, terjadi penguapan pada jumlah jam belajar aktif siswa. Walaupun selama pembelajaran itu tampaknya siswa aktif, belum ada jaminan bahwa semua bahan itu dikuasai oleh siswa secara memadai. Padahal inilah yang menentukan basil belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguapan waktu tujuh lapis (PWTL) luar biasa besarnya. Belum lagi jika dihitung berapa besarnya penguapan waktu di rumah,tatkala siswa menonton TV, bermain video game dan lain-lain. Maka jumlah TOT yang tersisa tidaklah seberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua,membuka peluang belajar. Waktu yang membuka peluang untuk belajarOpportunities To Learn (OTL) meliputi jumlah dan kualitas bahan belajar yang tersedia, pengalaman belajar dan latihan-latihan yang dikerjakan oleh siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dibayangkan bagaimana rendahnya basil belajar siswa, jika guru tidak memberikan bahan belajar memadai. Siswa jarang larut dalam pengalaman belajar yang relevan, dan mereka pun jarang pula melakukan latihan-latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga,Classroom management &amp; climate. Kemampuan guru memonitor kelas, efisien dalam menggunakan waktu, tidak boros dengan waktu transisi, kemampuan mempertahankan perhatian siswa terhadap pelajaran, mampu menangani dua atau lebih kejadian di kelas, mampu mengatasi tindakan tidak disiplin siswa yang hanya membuang TOT merupakan serangkaian kemampuan yang terkait dengan manajemen kelas. Iklim kelas yang tidak membosankan siswa, tetapi sekaligus juga mendorong siswa untuk serius, dimana kerjasama dan kerja individual mendapatkan peluang yang memadai, kompetisi positif terjadi, siswa ingin mencapai prestasi yang terbaik, merupakan sejumlah ciri-ciri iklim kelas yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan guru untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan tentu saja merupakan kemampuan yang penting. Namun perlu diingat jika semuanya itu tidak meningkatkat TOT jangan harap akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Persoalan menjadi serius jika kita hanya menekankan pada senangnya dan kreatifnya tetapi tidak menghitung berapa besar penguapan TOT yang terjadi hanya karena kita ingin membikin murid aktif, kreatif dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target Kurikulum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat, content coverage yang dalam bahasa biasa dipakai guru identik dengan target kurikulum. Yaitu banyaknya isi pelajaran yang relevan yang diselesaikan oleh guru selama pelajaran berlangsung. Atau, jumlah bahan yang diajarkan guru yang juga merupakan bahan yang termasuk dalam kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada jurang yang lebar antara apa yang dicakup guru dengan apa yang dapat dikuasai dengan benar oleh siswa. Jumlah bahan yang dikuasai oleh siswa pasti jauh lebih kecil daripada apa yang dicakup oleh guru. Di sinilah persoalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima, tumpang tindih atau content overlap antara apa yang diajarkan guru dan apa dipelajari siswa dengan apa yang diteskan atau diujikan. Kalau tumpah tindih ini tidak serasi apalagi nihil, maka terjadilah gejala "jauh panggang dari api". Apa yang diajarkan oleh guru tidak bertumpang tindih dengan apa yang dikuasai oleh siswa. Lebih parah lagi tidak bertumpang-tindih dengan soal-soal yang diujikan atau diteskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin ia akan lulus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, tugas guru yang kritis dalam meningkatkan prestasi belajar siswa adalah bagaimana merancang dan mengimplementasikan teknik pembelajaran agar jumlah waktu belajar aktif siswa tinggi, dan agar peluang belajar mencukupi serta dan iklim kelas kondusif. Selanjutnya bagaimana agar keempat elemen itu dirancang dan diwujudkan, sehingga target kurikulum terselesaikan dan tumpah tindih bahan pengajaran dengan bahan evaluasi bertambah serasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu merumuskan dengan baik, dalam satu kalimat, ciri-ciri pembelajaran yang efektif yaitu, "pengajaran yang terstruktur, jumlah jam belajar efektif yang tinggi, peluang berlajar yang besar, dorongan untuk berhasil yang kuat, harapan atau target yang tinggi, dan keterlibatan orangtua (dan komite sekolah) secara aktif dalam program sekolah ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya desentralisasi pendidikan di Indonesia merupakan saat yang dinanti. Kerucut pendidikan sudah mulai bergeser lebih mendekati kotak hitam. Kini kerucut itu ada di kabupaten. Yang lebih penting lagi semoga kerucut itu walau perlahan tapi pasti harus tidak merupakan kerucut terbalik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya RAPBS, gaji guru, fasilitas fisik dan nonfisik sekolah mengalir dengan deras dalam jumlah yang memadai.&lt;br /&gt;Tak kurang pentingnya kebijakan dan manajemen pendidikan di kabupaten, termasuk yang tercermin antara lain dari porsi APBD haruslah dengan jumlah yang memadai untuk menyibakkan rahasia kotak hitam pendidikan di sekolah dan kelas. Jangan pernah lagi mengikuti dalil kerucut tidak terbalik. Karena guru adalah pelaku yang terpenting dalam dunia pendidikan, maka APBD harus mendukung program manajemen guru termasuk pengembangan professional guru. Melalui motto "ADIDAS" yaitu All Day Indonesia Dream About School, maka tak pelak lagi, dalam UN mendatang, jumlah sekolah yang tidak lulus 100 persen akan jauh berkurang. Semoga.&lt;br /&gt;Ditulis oleh Aria Jalil, PhD - alumnus Sydney University Australia, Spesialis dalam Penelitian Pengajaran (Sumber: Harian Merdeka)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-5532195503908131427?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/5532195503908131427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=5532195503908131427' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/5532195503908131427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/5532195503908131427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/07/penyebab-prestasi-akademik-anjlok.html' title='Penyebab Prestasi Akademik Anjlok'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-1343655850267075050</id><published>2008-05-28T12:45:00.004+07:00</published><updated>2008-05-28T13:07:07.635+07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Harus Berkarakter</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/SDz2LCoNrjI/AAAAAAAAAFw/EhaG0v02-tU/s1600-h/turun+ke+sawah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/SDz2LCoNrjI/AAAAAAAAAFw/EhaG0v02-tU/s320/turun+ke+sawah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205305938877984306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN kita telah gagal melahirkan manusia. Sekolah memperlakukan peserta didik semata sebagai hard-disk yang siap dimasuki informasi apa saja, tetapi tanpa program untuk mengolahnya. Setiap hari mereka hanya belajar menyimpan informasi ke dalam otak, dan mengingat kembali saat ulangan. Sementara pendidikan agama nyaris tidak ada. Yang disebut sebagai pendididkan agama sebenarnya adalah pelajaran menghafal dengan materi agama, dan dalam partisi otak diberi nama pendidikan atau pelajaran agama. Ini berakibat sangat fatal terhadap perkembangan relegiusitas - lebih khusus lagi spiritualitas - peserta anak didik. Gara-gara penamaan pelajaran menghafal sebagai pendididkan agama, peserta didik mengalami dereligiusitas dan despiritualitas yang menyedihkan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pendididkan yang mereduksi agama menjadi hanya seperti pelajaran bahasa indonesia, IPA atau bahkan lebih rendah dari itu, membuat potensi ruhiyah peserta didik tumpul dan mati. Bertambahnya jam pelajaran agama tidak menambah kekuatan ruhiyah mereka. Sebaliknya justru bisa rentan masalah. Mereka kehilangan kepercayaan pada agama, meskipun mereka tetap beragama. Hari ini, itulah yang sedang terjadi. Anak-anak kita banyak yang mengalami disorientasi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reduksi agama tidak boleh diteruskan! Kekuatan ruhiyah peserta didik harus ditumbukan dan dikokohkan, sehingga menjadi penggerak hidup yang sempurna. Agama membangkitkan ideal-ideal, menyucikan maksud, meguatkan tekad untuk bergerak ke arah yang lebih baik, dan memberi makna atas setiap tindakan yang dikerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dengan Lorraine Monroe, ketika ia harus menangani SMU dengan latar belakang siswa yang sebagian berantakan, broken home dan hidup dengan logika kekerasan ada dua hal yang ia garap. Pertama membangkitkan high level of expectation (tingkat harapan yang tinggi). Mereka dimotivasi untuk memiliki target-target, tujuan dan cita-cita yang besar. Kedua , meletakkan landasan berupa keyakinan (belief) yang kuat sebagai penggerak untuk melakukan dan mencapai yang terbaik (the spirit of exellence).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses untuk membangkitkan kekuatan ruhiyah berupa keyakinan yang kuat kepada Allah, serta kesadaran akan kasih sayang dan kekuasaan Allah harus mencakup semua aspek. Pendidikan dirancang untuk secara seimbang memberi sentuhan yang menggerakkan aspek kognitif, afektif, konatif, psikomotorik, dan spiritual anak. Tidak bisa dipisah – pisahkan. Pendidikan yang hanya menyentuh salah satu aspek saja, akan lemah dan rapuh. Boleh jadi tampaknya kuat, tetapi tidak memiliki landasan psikis yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah contoh sederhana!!! Pembiasaan sholat pada anak jika hanya berhenti sebagai pembiasaan, akan mudah runtuh ketika anak mulai menemukan pemahaman yang berbeda dari apa yang dijalani. Pemahaman merupakan aspek kognitif. Hari ini kita melihat bagaimana anak-anak yang sedari kecil dibiasakan dengan aktifitas relegius, berubah secara drastis begitu mereka bersentuhan dengan komunitas yang berbeda atau wacana yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kita juga melihat bagaimana anak-anak yang hanya diaktifkan kemampuan kognitif terendahnya berupa menghafal, bobrok rasa percaya dirinya. Mereka menyerap materi agama, tetapi tanpa rasa, tanpa penghayatan. Akibatnya, pengetahuan mereka banyak, tetapi hampir-hampir tak ada yang diingat ketika mereka menghadapi masalah. Seakan-akan mereka belum pernah bersentuhan sama sekali dengan apa yang tersimpan dalam ingatan mereka. Sebabnya, proses pendidikan yang salah. Perlakuan pendididkan yang mereka terima hanya menyentuh kemampuan terendah kognitif mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya-upaya untuk memberi perlakuan pendidikan yang secara terencana mengaktikan aspek kognitif, afektif, konatif, psikomotorik dan spiritual ini perlu kita mulai saat ini. Proses mematangkan arah pendidikan harus kita pikirkan bersama-sama sedari sekarang, sehingga cita-cita tentang pendidikan islam terpadu tidak hanya berupa bayang-bayang !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Mohammad Fauzil Adhim&lt;br /&gt;Membuka Jalan Ke Surga (Menyempurnakan Nikmat Menuju Hidup Penuh Rahmat)_hal 179&lt;br /&gt;Pustaka Inti, Oktober 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diambil dari blog &lt;a com="" 2008="" 05="" 14="" berkarakter="" title="blog bapakethufail"&gt;imam sardjono&lt;/a&gt; - makasih pak imam)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-1343655850267075050?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/1343655850267075050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=1343655850267075050' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/1343655850267075050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/1343655850267075050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/05/pendidikan-harus-berkarakter.html' title='Pendidikan Harus Berkarakter'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/SDz2LCoNrjI/AAAAAAAAAFw/EhaG0v02-tU/s72-c/turun+ke+sawah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-150177791479165004</id><published>2008-05-06T11:09:00.003+07:00</published><updated>2008-05-06T11:16:03.156+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Sejarah Hidup Rasulullah SAW</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/SB_bKmSl6kI/AAAAAAAAAFo/HeX8CYRe-UQ/s1600-h/Duta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 74px; height: 100px;" src="http://bp0.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/SB_bKmSl6kI/AAAAAAAAAFo/HeX8CYRe-UQ/s200/Duta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197113470132546114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat ini kita berada di bulan Rabiul Awwal. Di mana di bulan ini Rasulullah dihadirkan di dunia oleh Allah SWT. Dalam sejarah hidupnya, beliau terlahir sebagai anak yatim, enam tahun kemudian lengkaplah statusnya sebagai yatim piatu. Sejak itulah Nabi kita tumbuh berkembang tanpa didampingi ayah dan ibu, bahkan beliau juga tidak memiliki saudara kandung. Pernahkah kita bertanya dalam hati betapa beratnya Rasul kita berjuang untuk hidup terus tanpa orang tua., tanpa saudara. Belum lagi kondisi alam di jazirah Arab begitu ganas, dikelilingi gunung – gunung batu tak ada tumbuhan. Tumbuh di tengah – tengah masyarakat jahiliyah penyembah berhala. Tetapi semua kondisi yang melingkupi itu bisa dilalui dengan baik, bahkan beliau menjadi manusia unggul pilihan Allah SWT.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran singkat tersebut, mari kita belajar dari pibadi teladan kita. Pertama, bagaimana Rasul kita bisa menghadapi semua tantangan yang menghadang ? kedua, siapa yang mendidik beliau, menjaga pribadinya dan memuliakan beliau dunia akhirat ? jika kita beriman maka jawabannya Dia – lah Allah yang Maha Mendidik, Maha Guru, tidak ada guru terbaik bagi Rasul kita selain Allah Yang Maha Sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses belajar untuk menjadi manusia unggul seperti pribadi Rasul SAW, setidaknya ada 5 komponen yang saling mendukung keberhasilan proses tersebut yaitu 5M, mursyid, murid, materi, metode, dan miliu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mursyid. Sebenarnya kalau kita mau belajar bagaimana Allah SWT mendidik beliau tentu kita juga bisa menjadi guru yang sukses bagi murid – muridnya. Oleh karena itu peran mursyid sangat penting. Seorang guru sebaiknya memiliki sifat – sifat Allah SWT dalam prose belajar mengajar, yang diawali dari Ar Rahman Ar Rahim dan seterusnya sampai Ash Shobuur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid. Lihatlah sifat utama yang ada pada diri yang dikenal dengan sebutan Al Amin. Didiklah murid – murid kita untuk mewarisi pribadinya, tambahlah dengan sifat – sifat utama beliau yaitu STAF ( Siddiq, Tabligh, Amanah, dan Fathonah )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi. Apa saja yang diberikan oleh Allah SWT, yang paling utama adalah Al Quran. Maka ajarkanlah Al Quran kepada anak didik kita, sebelum ilmu – ilmu yang lain. Berusahalah untuk mendidik anak – anak berakhlak Qurani, sebagaimana Rasulullah SAW yang terkenal dengan sebutan Al Quran yang berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode. Belajarlah dengan cara yang telah diterima oleh Nabi SAW. Beliau menerima Al Quran secara berangsur – angsur. Demikian pula anak – anak kita, ajari mereka secara bertahap step by step, alamiah, sesuaikan dengan tingkat pemahamannya, gunakan bahasa hati yang mampu menguatkan karakter pribadinya, berpikir secara benar serta berperilaku istiqomah dalam mengamalkan ilmu pengetahuan yang diterimanya. Ingat malaikat Jibril ? dialah yang diutus oleh Allah SWT untuk mendampingi Rasulullah SAW setiap saat. Gunakan metode pendampingan atau cara yang bisa memonitor perkembangan anak – anak kita selama 24 jam. Dengan metode ini kita akan bisa melihat  sejauh mana pendidikan yang kita beriakan bisa diserap dan dilakukan oleh anak – anak kita dalam perilaku sehari – hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miliu. Mengapa lingkungan menjadi aspek yang penting ? karena lingkungan bisa membantu tumbuh kembang anak secara sehat dan sebaliknya. Oleh karena itu carikan lingkungan yang terbaik bagi anak – anak kita. Tempat tinggal menjadi faktor penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan. Jangan pernah meremehkan lingkungan, karena di situlah anak – anak kita berinteraksi, bergaul, membangun tradisi, menjalin pertemanan, bertetangga, dan sebaginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW pernah berpesan kepada kita, jika kita akan bertempat tinggal, maka lihatlah dahulu lingkungannya. Apakah lingkungan yang akan menjadi tempat tinggal kita dan anak – anak adalah lingkungan yang baik atau buruk ? pertimbangan ini sebaiknya menjadi bagian dari keberhasilan pendidikan, karena anak – anak kita akan bersosialisasi dengan teman – temannya. Jika teman – temannya baik, berkomunikasi dengan baik, permainannya juga baik, maka insya Allah tidak sia – sia kita mendidik anak – anak dalam pendidikn yang berkarakter Tauhid yaitu satu kesatuan yang utuh dalam melihat segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu wahai para orang tua lihatlah lingkungan kita. Sudahkah kondusif untuk pertumbuhan iman dan akhlak bagi anak – anak kita. Jika belum berusahalah untuk memperbaiki lingkungan lingkungan Anda, tetapi jika belum bisa, maka berhijrahlah, seperti Rasulullah SAW diajarkan oleh Allah SWT untuk berhijrah dari Mekah ke Madinah yang nantinya akan kembali untuk meraih kemenangan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku para orang tua murid, saat ini kita hidup di jaman yang carut marut, jaga diri dan keluarga dari neraka dunia maupun neraka akhirat. Mari kita bangkit dan bergerak menuju kemenangan Islam. Jangan sia – siakan waktu kita untuk melayani dunia. Berusahalah untuk menjadi pelayan Allah SWT karena Allah Penggenggam dunia ini. Sempurnakan keluarga kita, raih kesuksesan di dunia dan keselamatan di akhirat. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menggugah kita untuk lebih serius memperhatikan pendidikan terbaik bagi anak – anak kita. Bercita – citalah yang kuat untuk bersama – sama melahirkan Generasi Qurani, Generasi Rabbani. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiriman dari: Duta Grafika&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-150177791479165004?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/150177791479165004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=150177791479165004' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/150177791479165004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/150177791479165004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/05/belajar-dari-sejarah-hidup-rasulullah.html' title='Belajar dari Sejarah Hidup Rasulullah SAW'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/SB_bKmSl6kI/AAAAAAAAAFo/HeX8CYRe-UQ/s72-c/Duta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-4228767013392012846</id><published>2008-04-23T08:40:00.003+07:00</published><updated>2008-04-23T08:47:41.542+07:00</updated><title type='text'>Tantangan Membangun Guru Profesional</title><content type='html'>Salah satu sebab terpenting mutu pendidikan nasional yang rendah saat ini adalah karena pendidikan, terutama pendidikan dasar, selama tiga dekade terakhir tidak disajikan oleh guru yang profesional. Guru direkrut bukan dari kelompok masyarakat yang terbaik; mereka yang paling berbakat hampir-hampir tidak bersedia menjadikan guru sebagai profesi mereka. Dalam kata lain, pendidikan telah dilakukan oleh para amatir. UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen dimaksudkan untuk secara struktural memperbaiki kondisi keterpurukan guru.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah profesi seharusnya adalah sebuah panggilan jiwa yang diwujudkan dalam karya pelayanan oleh sekelompok orang yang memiliki kualifikasi yang tinggi untuk melaksanakan kerja yang khusus, yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang tuntas serta pengalaman yang penuh tanggungjawab, dan karena kemuliaan profesi ini mereka yang tidak memenuhi syarat tidak dapat diterima sebagai rekan seprofesi. Menjadi anggota sebuah profesi dengan demikian adalah sebuah kontrak untuk melayani masyarakat, melampaui semua bentuk kewajiban kepada klien atau majikan, sebagai imbalan atas keistimewaaan perlakuan masyarakat kepada profesi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tantangan professional guru yang telah terjadi cukup lama adalah saat para guru membiarkan perampasan kompetensi profesionalnya dirampas begitu saja oleh sebuah komputer bodoh melalui Ujian Nasional untuk menentukan kelulusan para siswa yang bertahun-tahun dididiknya. Ujian Nasional merupakan salah satu perangkat kebijakan paling menonjol dalam proses penggerusan kewibawaan guru, dan penghancuran profesionalisme guru. Membiarkan hal ini terus terjadi merupakan pengingkaran atas tanggungjawab professional guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pemerintah menganggap bahwa para guru tidak kompeten atau tidak dipercaya untuk melakukan evaluasi belajar peserta didik dan menentukan kelulusan mereka, bagaimana mereka bisa dibiarkan bekerja sebagai guru? Peserta didik sebagai konsumen jasa pendidikan (yang dalam banyak kasus tidak gratis, bahkan semakin mahal) yang dihasilkan oleh guru, jelas amat dirugikan. Di samping itu, sekolah yang membiarkan peserta didiknya ditentukan kelulusannya oleh pihak yang tidak kompeten adalah sekolah yang tidak layak dipercaya, karena tidak bertanggungjawab. Sekolah telah menerima imbalan dari para konsumen jasa pendidikan, tapi di akhir proses menyerahkan hasil kerjanya kepada pihak lain (sebuah komputer bodoh di Jakarta)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketinggian mutu layanan tertentu yang bermartabat dan dihormati disebabkan terutama karena layanan tersebut diberikan oleh para professional. Siapakah para professional ini? Mereka adalah sekelompok orang yang terorganisasi yang mempunyai tujuan sama, bekerja dengan suatu kode etik yang ditaati secara konsisten dan senantiasa berusaha mencapai hasil karya lebih baik, lebih sempurna, serta selalu berusaha meningkatkan keahlian profesionalnya agar dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi ilmu pengetahuan yang melandasi profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan profesional yang sanggup diberikan oleh beragam masyarakat profesi akan ikut menentukan kualitas hidup masyarakat tersebut. Apabila masyarakat profesional tidak sanggup menjunjung tinggi etika profesionalnya, maka masyarakat akan dirugikan karena banyak ragam layanan profesional yang tidak konsisten mutunya, sehingga banyak biaya-biaya transaksi sosial ekonomi menjadi lebih tinggi. Pelanggaran etika profesi akan secara lambat tapi pasti mendegradasikan citra dan kepercayaan masyarakat atas sebuah profesi, dan akhirnya merugikan mereka yang sungguh-sungguh menjunjung tinggi kehormatan profesi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang apapun, guru adalah salah satu profesi yang terpenting dalam sebuah peradaban. Jauh lebih penting dari pada profesi insinyur misalnya. Pendidikan sebagai upaya sadar yang terencana untuk mengembangkan seluruh ragam potensi manusia sebagai peserta didik sudah jelas menempatkan guru sebagai profesi yang paling menantang. Oleh karena itu, membangun sebuah masyarakat atau organisasi guru yang membangun profesionalitas guru merupakan bagian strategi yang paling penting untuk memperbaiki mutu guru, dan akhirnya menentukan mutu pendidikan nasional kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SERTIFIKASI GURU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sertifikasi insinyur akan menentukan kualitas jasa profesi insinyur, langkah terpenting dalam membangun masyarakat guru yang profesional adalah melalui sertifikasi guru. Sertifikasi profesi merupakan sebuah prosedur penilaan baku atas kelayakan seseorang untuk memberikan layanan profesional. Sertifikasi dilakukan oleh sebuah lembaga yang independen dan memiliki kredibilitas yang tinggi. Tergantung pada track record nya (catatan profesional), seseorang memiliki kelas kelayakan profesi tertentu. Semakin baik dan meyakinkan catatan profesionalnya, seseorang diberi pengakuan yang lebih tinggi (diakui mampu untuk memberikan jasa profesional yang lebih kompleks dan lebih menantang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kompensasi dan penghargaan yang pantas diberikan bagi seorang profesional akan ditentukan oleh mutu dan kompleksitas layanan profesional yang sanggup diberikannya. Masyarakat profesi perlu mempertahankan kredibilitas proses sertifikasi ini agar kepercayaan masyarakat pada profesi tersebut dapat dijaga, bahkan ditingkatkan sehingga semakin bermartabat sebagaimana terlihat dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat yang mengambil manfaat atas layanan profesi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas jasa layanan profesi guru pada akhirnya akan menentukan tingkat kesejahteraan guru. Penghasilan dan gaji guru akan ditentukan secara wajar oleh tingkatan profesionalitas para guru sendiri, terutama bagaimana mereka mengemban etika guru sebagai sebuah profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangun masyarakat guru yang profesional paling tidak diperlukan dua pendekatan pokok. Pendekatan pertama bersifat kultural di mana setiap guru – dengan kesanggupan sendiri dan diorganisasikan oleh organisasi guru- harus memulai prakarsa untuk sanggup mengemban tanggungjawab profesional sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemampuan mengarahkan diri sendiri menghasilkan layanan pendidikan yang terbaik&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemampuan menghayati dan memenuhi kepentingan umum&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemampuan bekerja dalam sebuah kelompok atau tim&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemampuan spesifik keguruan, yang dilandasi kemampuan intelektual dan keterampilan teknis, berupa kompetensi dan kesiapan melaksanakan pekerjaan keguruan secara kreatif dan beretika.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;STANDAR PROFESI GURU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal penting lainnya adalah standar profesi guru (SPG). SPG seharusnya dirumuskan untuk mendefinisikan ruang lingkup pekerjaan guru sebagai sebuah profesi, dan sebuah platform untuk melakukan refleksi atas kinerja profesi guru sebagai sebuah karir. Berbeda dengan profesi lainnya, profesi guru adalah profesi yang kompleks. Kompleksitas ini ditimbulkan oleh fitrah pendidikan sebagai wahana pengantar anak didik ke masa depan. Karena masa depan dicirikan oleh ketidakpastian dan ketidakjelasan, maka hanya warga yang kreatif yang akan sanggup beradaptasi secara produktif dan bertanggungjawab di dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian dan ketidakjelasan ini. Oleh karena itu, SPG harus dinyatakan secara generik, dan ditujukan untuk membangun kompetensi kreatif guru sebagai model manusia yang kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan SPG Pemerintah negara bagian Queensland dapat dijadikan sebagai rujukan penyusunan SPG ini. Tuntutan rumusan kompetensi generik ini juga akan mencerminkan peluang interpretasi yang disebabkan oleh keragaman latar belakang budaya, lokalitas, jenjang dan jalur pendidikan, tugas tambahan yang dikerjakan guru, serta setting sosial di mana guru bekerja. Rumusan generik ini juga memberi ruang pertama bagi kreatifitas guru. SPG Queensland misalnya mencakup tugas-tugas guru sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengembangkan pengalaman belajar yang inovatif dan luwes bagi individu peserta didik, maupun bagi kelompok&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memberikan tantangan intelektual yang memadai bagi peserta didik&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berpartisipasi dalam upaya pemberantasan buta huruf, buta angka, dan pengembangan bahasa&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengembangkan penguasaan dan pemutakhiran bahan-bahan pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berpartisipasi dalam pengembangan para remaja dan pemuda&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengembangkan suasana pembelajaran yang tidak diskriminatif, dan mendorong pemahaman lintas budaya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengembangkan pembelajaran yang menjangkau lingkungan di luar sekolah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Melakukan evaluasi belajar murid yang mendorong pengembangan seluruh ranah belajar dan minat murid&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengembangkan pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memberi kontribusi bagi pengembangan profesi guru &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pendekatan kedua bersifat struktural sebagaimana terwujud melalui UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam pendekatan struktural ini, Pemerintah harus membangun sebuah politik pendidikan yang jelas, dan diterjemahkan dalam program pembangunan pendidikan yang memberdayakan guru sebagai sebuah profesi yang bermartabat dan dihormati. Rekrutmen guru harus dilakukan melalui mekanisme yang ketat dan transparan. Mereka yang layak sebagaimana dibuktikan melalui proses sertifikasi diberi kompensasi dan penghargaan yang pantas dan menarik. Mereka yang tidak layak harus dikeluarkan dari masyarakat guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transformasi IKIP menjadi universitas patut disesalkan sebagai proklamasi ketidakpercayaan diri IKIP mengemban tugas besar menyediakan tenaga guru. Lembaga pendidikan calon guru perlu diperbaiki secara radikal. Citra dan kelembagaan pendidikan guru, dan penelitian pendidikan perlu didukung dengan dana yang memadai. Pengembangan citra guru yang baik masih akan menjadi tantangan beberapa tahun mendatang. Diharapkan, suatu saat mahasiswa lembaga pendidikan calon guru direkrut dan dipilih dari mereka yang paling berminat dan berbakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka membangun modal sosial yang kuat serta memenangkan persaingan global, Indonesia memerlukan politik pendidikan yang kuat untuk membangun pendidikan yang bermutu secara berkelanjutan. Disamping dukungan anggaran pendidikan yang lebih proporsional, salah satu dimensi politik pendidikan yang diperlukan adalah kebijakan yang mendorong profesionalitas guru melalui desentralisasi pendidikan substantif hingga ke satuan pendidikan (akreditasi), sertifikasi guru dan kelembagaan pendidikan guru yang menarik bagi pemuda yang paling berbakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Profesi Guru perlu segera dirumuskan untuk menjadi pendoman bagi ikatan profesi guru, dan penyedia jasa pendidikan guru. SPG perlu dinyatakan secara generik untuk merumuskan ruang lingkup tugas/pekerjaan guru, dan sebagai platform refleksi kinerja profesional guru sebagai karir. Tugas guru yang terpenting sebagai pemandu ke masa depan bagi anak didik adalah mengembangkan pengalaman belajar yang inovatif dan luwes, dan memberi tantangan intelektual yang memadai bagi para peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU no. 14/2005 telah memberi payung struktural bagi pengembangan profesional guru. Namun demikian, secara kultural masyarakat guru juga perlu menunjukkan bahwa mereka memiliki komitmen untuk mampu mengemban tanggungjawab profesional guru. Untuk itu, organisasi profesi guru perlu berbenah diri untuk sungguh-sungguh meningkatkan profesionalitas guru melalui program sertifikasi guru, dan penegakan etika profesi guru. Salah satu tantangan kultural guru adalah mengambil alih kembali tanggungjawab profesionalnya untuk menentukan kelulusan anak didiknya, bukan menyerahkan kelulusan mereka kepada sebuah komputer bodoh melalui Ujian Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ditulis oleh: Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D&lt;br /&gt;(Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, dosen pada Jurusan Teknik Kelautan ITS, Ketua Persatuan Insinyur Indonbesia (PII) Cab. Surabaya , dan tenaga ahli pada Kementrian Riset dan Teknologi RI.)&lt;br /&gt;Sumber: http://kpicenter.web.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-4228767013392012846?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/4228767013392012846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=4228767013392012846' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/4228767013392012846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/4228767013392012846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/04/tantangan-membangun-guru-profesional.html' title='Tantangan Membangun Guru Profesional'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-5425093360703036148</id><published>2008-04-22T08:22:00.002+07:00</published><updated>2008-04-22T08:34:26.584+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Ayam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://kpicenter.web.id/neo/images/stories/masruri_tbkecil.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 97px; height: 110px;" src="http://kpicenter.web.id/neo/images/stories/masruri_tbkecil.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beberapa&lt;/span&gt; waktu yang lalu saya bertemu seorang wali murid yang sedang berada di masjid. Hari itu adalah hari kerja , bukan hari libur atau tanggal merah. Ketika saya tanya kenapa bapak berada di masjid.. Beliaupun menjawab: "Pak Masruri, setiap anak-anak saya sedang ulangan semester. Saya berusaha mengambil cuti kerja untuk beri'tikaf di masjid. Kemudian saya berdoa agar Allah memberi kemudahan pada anak-anak saya dalam menghadapi ujian". Saya tertegun dengan jawaban itu serta berguman dalam hati; pantas saja anak beliau yang merupakan salah satu dari murid saya itu prestasinya luar biasa. Prestasi akademik maupun akhlaknya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu yang lain saya menjumpai seorang wali murid yang memilki tiga anak. Ketiganya adalah anak-anak yang berprestasi. Ketiga anak itu juga dikenal sangat baik akhlaknya. Beliau seorang pegawai negeri di lingkungan departemen pertanian. Dalam sebuah dialog  beliau berkata pada saya  bahwa setiap bulan seluruh gajinya habis untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Untuk kebutuhan makan sehari-hari keluarga, dibiayai dari hasil tambak warisan orang tuanya yang tidak seberapa besar. Saya melihat sendiri memang kehidupan keluarganya sangat sederhana. Seolah-olah beliau dan istrinya hanya mengabdikan hidupnya untuk keberhasilan pendidikan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua fenomena di atas mengajarkan pada kita bahwa keadaan orang tua sangat memperngaruhi bagaimana keadaan anak-anaknya. Ada korelasi positif antara kesungguhan dan pengorbanan orang tua dalam mendidik anak dengan keberhasilan anak-anak mereka.  Dalam pepatah kita mengenal ungkapan bahwa hanya mereka yang 'menanam' saja yang akan 'menuai' hasilnya. Walau terkadang hasil 'tanaman' itu belum bisa dirasakan sebagian orang tua saat anak-anak mereka masih sekolah. Tapi saya yakin bahwa kesungguhan dan pengorbanan orang tua tidak ada yang sia-sia. Kalau saat ini anak kita tidak 'sukses'  di sekolah, kita masih bisa berharap mereka akan sukses pada saat dewasa. Karena tidak sedikit anak yang sekolahnya biasa-biasa saja prestasinya namun setelah dewasa justru sukses dalam karir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks perhatian, penjagaan dan pengorbanan, dua kisah tersebut mengingatkan saya dengan peristiwa ayam yang sedang mengerami telurnya. Ketika ayam mengerami telur-telurnya, dia meluangkan waktu khusus selama 21 hari. Selama proses pengeraman itu si induk ayam menjalankan puasa (tirakat). 'Puasa' dari makan dan minum maupun puasa dari godaan ayam-ayam jago yang mengajaknya 'bersenang-senang'. Setiap hari dia juga membolak-balik telur-telurnya agar setiap bagian telur dapat merasakan kehangatan cintanya. Dan anda jangan coba-coba mengganggu telur yang sedang dierami itu. Anda menyentuh saja, sang induk ayam akan marah dan tangan anda akan terluka oleh gigitan paruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bijak adalah orang yang bisa mengambil hikmah dari semua kejadian di sekitarnya untuk dijadikan perbaikan dirinya. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam salah satu hadits bahwa hikmah adalah ibarat barang yang hilang dari seorang mu'min dan wajib baginya untuk mencarinya. Peristiwa ayam yang sedang mengrami telurnya saya rasa bisa dijadikan hikmah/pelajaran bagi kita untuk meningkatkan kualitas dalam mendidik anak kita. Sebuah hikmah yang mengajarkan pada kita tentang arti penting dari perhatian, penjagaan dan pengorbanan orang tua untuk kesuksesan dan kebahagiaan anak-anak mereka. Dan sebuah hikmah yang mengajarkan pada kita bahwa anak-anak juga sangat membutuhkan sentuhan emosi dan spiritual kita dalam proses pendidikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita sebagai orang tua merasa cukup jika anak kita sudah dipenuhi kebutuhan pendidikan formalnya dengan sekolah yang baik dan dipenuhi kebutuhan fisiknya dengan memberi makanan yang bergizi? Cukupkah hanya itu saja? Tidak perlukah kita juga bertahajud di sebagian malam kita untuk mendoakan mereka? Tidak perlukah kita juga mendekatkan diri pada Allah dengan puasa-puasa sunah atau amal sholeh lainnya agar Allah memudahkan urusan kita dalam mendidik mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mendapati anak kita saat ini belum se-'sukses' dan sebaik yang kita harapkan maka kita perlu mengevaluasi diri: Sudahkah kita mengerami 'telur-telur' kita sebaik induk ayam mengerami telurnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis: Oleh Drs Masruri&lt;br /&gt;Sumber: kpicenter.web.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-5425093360703036148?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/5425093360703036148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=5425093360703036148' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/5425093360703036148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/5425093360703036148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/04/belajar-dari-ayam.html' title='Belajar dari Ayam'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-7364658449019053907</id><published>2008-04-16T09:59:00.002+07:00</published><updated>2008-04-16T10:03:36.686+07:00</updated><title type='text'>Tety Suryati, Guru yang Akrab dengan Sampah</title><content type='html'>Kecintaan Teti Suryati pada tanaman dan lingkungan mendorongnya gencar menyosialisasikan pengolahan sampah menjadi kompos. Awalnya, guru Biologi SMAN 12 Jakarta ini sekadar membagi ilmu dengan sesama guru di Jakarta, lalu meluas sampai di berbagai wilayah di Tanah Air.&lt;br /&gt;Keengganan warga mengolah sampah rumah tangga dijawab Teti dengan menciptakan alat pembuat kompos atau komposter sederhana. Komposter buatan Teti berbahan kaleng bekas cat berukuran 25 kilogram, yang diberi alat pemutar pada bagian samping atau tutup kaleng.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semua ini berawal saat Teti terpilih sebagai kader kebersihan oleh Dinas Kebersihan DKI Jakarta, enam tahun lalu. Sebagai kader, dia mendapat banyak informasi tentang pengolahan sampah menjadi kompos.&lt;br /&gt;Pengetahuan itu tak dibiarkannya begitu saja. Tetapi dia mengembangkannya dengan menciptakan komposter. Untuk memenuhi selera masyarakat, Teti telah mengembangkan 13 tipe komposter dengan bahan baku kaleng dengan alat pemutar. Tahun lalu, dia mengembangkan komposter gantung yang dibuat dari tempayan air, untuk mengajari warga membuat kompos cair.&lt;br /&gt;”Setiap kali saya ceramah soal pengolahan sampah rumah tangga, warga malah bertanya ’ngapain susah-susah ngurus sampah?’ Mereka merasa sudah membayar retribusi kebersihan, jadi enggak perlu pusing mikirin sampah,” cerita Teti.&lt;br /&gt;Ketika ia meminta warga belajar bikin kompos, ”Sebagian warga menjawab, untuk apa? Beli saja, kompos kan harganya murah, cuma Rp 1.000 per kilogram,” ujarnya.&lt;br /&gt;Sikap apatis warga yang dia datangi lewat kelompok arisan, pengajian, PKK, warga perumahan, guru, maupun karyawan itu tetap tak menyurutkan semangat Teti untuk berbagi dan mengubah paradigma berpikir masyarakat soal sampah. Keluhan itu justru membuat dia kreatif dengan menciptakan komposter untuk mengurangi sampah di rumah.&lt;br /&gt;Umumnya warga kota malas berurusan dengan sampah organik atau basah yang mudah berbau busuk. Mereka enggan membuka tempat pembuangan sampah, lalu mengaduknya agar tak bau dan berbelatung.&lt;br /&gt;”Dari situlah saya terpikir harus membuat alat pengaduk sehingga tempat sampah organik tak harus sering dibuka. Saya lalu ke tukang las, minta kaleng bekas cat itu dilubangi sisi kiri dan kanannya, lalu dipasangi seperti jeruji yang memudahkan pemutaran sampah di dalamnya,” tuturnya.&lt;br /&gt;Komposter ala Teti bahkan bisa disimpan di ruang tamu, tanpa orang sadar bahwa isinya sampah basah. Adapun komposter gantung dari tempayan air cocok dipasang di rumah yang tak punya halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersih dan Hijau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan Teti mengajak warga memilah dan mengolah sampah semakin intens ketika suaminya terpilih menjadi Wakil Ketua RW 15, Kampung Bulak, Klender, Jakarta Timur, tahun 2004. Teti, yang saat itu aktif sebagai instruktur pendidikan lingkungan hidup bagi guru-guru DKI Jakarta, merasa harus mendukung tugas suami.&lt;br /&gt;”Ketika itu ada lomba RW bersih dan sehat tingkat kelurahan. Saya ikut terlibat di PKK dan harus menggerakkan semua warga agar berpartisipasi,” kenangnya.&lt;br /&gt;Kondisi lingkungan tempat tinggal yang kumuh dan sempit menginspirasi dia untuk mengajak warga mengubahnya menjadi lingkungan yang bersih dan hijau. Ia minta setiap rumah menanam dua pohon. ”Ini menimbulkan pro-kontra.”&lt;br /&gt;Warga yang umumnya masyarakat menengah-bawah keberatan harus membeli tanaman dan pot. Teti pun menyarankan kaleng bekas sebagai ganti pot.&lt;br /&gt;Selain itu, setiap pukul 16.00, salah satu penghuni rumah harus membersihkan halaman masing-masing. Bagi warga yang tak bersedia, ada denda menyediakan dua pohon di depan rumah.&lt;br /&gt;”Cara itu efektif untuk membangkitkan kesadaran warga. Mereka ikut aktif menciptakan kebersihan lingkungan. Setelah tampak hasilnya, warga jadi gemar bertanam,” kata Teti. Hasilnya? RW 15 ditunjuk sebagai RW percontohan di Jakarta Timur.&lt;br /&gt;Namun, kecintaan warga menanam itu menimbulkan persoalan lain. Mereka sulit menemukan media tanam. Dan Teti lalu memperkenalkan kompos sebagai media tanam.&lt;br /&gt;Pembuatan kompos menuntut warga punya kebiasaan memilah sampah di rumah. Sampah organik warga RW itu dikumpulkan di enam posko, sedangkan sampah nonorganik, seperti kertas, plastik, dan kayu, dijual atau dibuat kerajinan tangan. Petugas kebersihan hanya mengangkut sampah yang sama sekali tak bisa didaur ulang.&lt;br /&gt;Dalam kurun 2004-2006, RW 15 ”hanya” mendapat juara ketiga RW bersih dan sehat tingkat Provinsi DKI Jakarta. Tetapi, kebiasaan mengelola sampah rumah dan mengolahnya menjadi kompos telah menjadi pola hidup warga. Mereka cinta lingkungan bukan karena ada lomba.&lt;br /&gt;Baru pada 2007, RW 15 menjadi juara nasional RW Bersih yang diselenggarakan Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Sejak itu, kawasan ini sering didatangi masyarakat dan pejabat yang ingin mengetahui bagaimana warga setempat mengelola sampah rumah tangga.&lt;br /&gt;”Untuk menumbuhkan kesadaran warga, seperti memilah sampah di rumah, tak semudah membalik telapak tangan,” katanya. Padahal, sampah organik mencapai 60 persen dari total sampah rumah tangga.&lt;br /&gt;”Kalau semua orang mau sedikit saja susah, memilah sampah dan mengolahnya, bayangkan, betapa nikmatnya lingkungan hidup ini. Akibat global warming pun bisa diminimalkan,” ujarnya lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Muatan Lokal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006 Teti menggagas muatan lokal lingkungan hidup sebagai materi pelajaran di sekolah tempatnya mengajar. Pengolahan sampah termasuk salah satu materi yang diajarkan. Ia membuat semacam kurikulum, siswa diajak praktik di rumah dan di sekolah.&lt;br /&gt;Apa yang dia lakukan membuahkan hasil. Sekolah tempatnya mengajar, SMAN 12 Jakarta, terpilih sebagai sekolah berwawasan lingkungan tingkat nasional. Dalam lomba pemanfaatan sampah oleh pelajar yang digelar World Wildlife Fund, SMAN 12 Jakarta meraih juara kedua. Siswa mengolah sampah plastik menjadi aksesori.&lt;br /&gt;Kiprah Teti yang gencar memperkenalkan pengolahan sampah skala rumah tangga dan sekolah ini menarik perhatian berbagai pihak yang peduli lingkungan hidup. Dia semakin sering diminta menjadi pembicara ke berbagai kota, seperti Balikpapan, Pontianak, dan Bandar Lampung. Ia muncul dalam talkshow di radio dan televisi.&lt;br /&gt;Teti semakin sibuk sebagai pembicara soal pengolahan sampah dan pemberdayaan warga untuk menciptakan lingkungan hidup yang bersih dan hijau. Namun, dia tak mengabaikan tugasnya sebagai guru. (Harian Kompas)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-7364658449019053907?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/7364658449019053907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=7364658449019053907' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/7364658449019053907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/7364658449019053907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/04/tety-suryati-guru-yang-akrab-dengan.html' title='Tety Suryati, Guru yang Akrab dengan Sampah'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-6487398468945474067</id><published>2008-04-16T09:54:00.002+07:00</published><updated>2008-04-16T09:57:34.043+07:00</updated><title type='text'>Melongok SD di Jepang</title><content type='html'>Sekedar sebagai bahan perbandingan, berikut ini ada tulisan ringkas mengenai sistem dan kondisi sekolah dasar di Jepang.  Semoga pendidikan kita sedang menuju ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Subsidi Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wajib belajar hingga SLTA masih terus diterapkan di Jepang, dan untuk itu subsidi pendidikan terus dikucurkan pemerintah, sehingga siswa hanya membayar "makan siang" sementara buku pelajaran dan fasilitas pendidikan dibiayai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Fasilitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kompleks bangunan SD negeri sangat standar, lengkap dengan multi function hall buat OR dan pentas seni, kolam renang, lapangan sepakbola. Ruang kelas juga standar, ada TV, DVD player, piano elektrik, media praktek untuk pelajaran dan OR. Satu kelas ada 30 an anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Kurikulum Sekolah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keseimbangan antara otak kiri dan kanan sangat dijaga, sehingga jam pelajaran di kelas, praktek di luar kelas, pentas kesenian, olahraga (cukup berat bagi tingkat SD sampai belajar sepeda roda satu) diajarkan. Jumlah mata pelajaran lebih kurang 2/3 dari SD Indonesia, dan sarat dengan ajaran budi pekerti. Pentas seni sekolah 2 kali setahun dan semua siswa tampil dengan penonton semua ortu dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. PR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siswa juga diberi pe-er dan orang tua diharuskan mengetahui bahwa pe-er sudah dilaksanakan, tentu dengan porsi yang pantas. Sabtu memang libur, tapi siswa tetap diberi tugas kelompok, misalnya berkunjung ke museum dan diharuskan menulis laporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Standar Guru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hampir sama dengan SD waktu saya dulu sekolah, satu kelas ditangani oleh 1 guru. Bedanya, guru di sana memiliki standar yang lumayan tinggi. Guru tersebut harus menguasai semua mata pelajaran, termasuk bisa main piano, bisa praktek olahraga (tetap dengan bantuan pengawas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Peran Guru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Guru mempersiapkan kelas sejak pagi, dan mempersiapkan materi untuk esok harinya. Rata-rata para guru pulang dari sekolah pukul 6 sore. Guru adalah moderator di kelas, dan urid aktif dengan diskusi. Tapi gaji guru memang sangat pantas, malahan konon tak jauh beda dengan dosen perguruan tinggi. Bila ada siswa yang ngga masuk, maka guru akan menilpon ortunya, dan saat pulang akan berkunjung ke rumah siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;7. Kunjungan Sekolah dan PTA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebulan sekali ada open kelas, dan orang tua bisa melihat dengan langsung kegiatan di dalam kelas. Ada Parent Teacher Association (PTA) dimana para otru bertemu dan berembug demi kemajuan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;8. Pekan OR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di kita ada Class Meeting dimana para siswa bertanding OR. Yang pinter basket ya basket, yang pinter ping-pong ya bertanding ping-pong. Lalu yang ngga bisa apa-apa yang jadi penonton. Sementara di Jepang bila ada acara tersebut (Undokai) maka semua siswa oikut yterlibat. Merteka dibagi menjadi 4 s/d 5 kelompok yang campur dari unsur kleas 1 s/d 6 (group merah, kuning, putih..dsb). Jadi semua ikut terlibat, dan bakan yang cacat badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;9. Rayoninasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sistem Rayon juga diterapkan dan dapat berlangsung dengan nyaman karena standar SD sama. Hampir semua siswa dapat bersekolah dengan jarak capai pantas dengan berjalan kaki.  (Milis Dikbud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:www.duniaguru.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-6487398468945474067?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/6487398468945474067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=6487398468945474067' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/6487398468945474067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/6487398468945474067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/04/melongok-sd-di-jepang.html' title='Melongok SD di Jepang'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-8068148667268686473</id><published>2008-04-16T07:56:00.003+07:00</published><updated>2008-04-16T08:05:28.840+07:00</updated><title type='text'>Konsep Kerja Cerdas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/SAVQoWvZLcI/AAAAAAAAAFg/15IvKzqCyj0/s1600-h/01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/SAVQoWvZLcI/AAAAAAAAAFg/15IvKzqCyj0/s200/01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5189642799843716546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Penelitian dalam hal efektivitas dan efisiensi  waktu menemukan bahwa 80% prestasi seseorang di bidang apapun diraih dari  20%  waktu yang dikeluarkan. Dan 80% kebahagian hidup ditentukan dari 20% waktu yang digunakan untuk mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tanyalah pada diri anda, berapa jumlah waktu yang benar-benar anda gunakan dalam kaitan dengan tujuan anda pergi ke kantor selain waktu macet, ngobrol, atau melamun, atau membicarakan persoalan lain dengan kawan kerja? Jika jawaban anda ternyata menggunakan rumus yang sebaliknya maka anda tidak memiliki perbedaan dengan orang lain dan itu sama artinya bahwa anda belum menerapkan cara kerja cerdas.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aplikasi Kerja Cerdas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bangsa yang agamis sekaligus kaya budaya leluhur, sebenarnya seruan kerja cerdas ini bukanlah barang baru. Tetapi persoalannya lagi-lagi berupa tools yang tidak di-update. Selain disampaikan dengan "bahasa langit" yang seringkali menafikan proses pemahaman secara ilmiah dan alamiah pun juga tidak dilakukan elaborasi kontekstual. Akibatnya pemahaman tentang ajaran agama dan budaya hanya bekerja pada persoalan yang bersifat minoritas dalam kehidupan nyata. Sebelum Pareto mengumumkan hasil penelitiannya dengan formula 80/20, kita sudah diajarkan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan mubazir atau yang tidak perlu. Sayangnya, ajaran mubazir yang kita pahami hanya sebatas kalau kita membuang makanan yang tersisa. Amat jarang kita berpikir mubazir secara profesi, ekonomi, atau strategi.&lt;br /&gt;Untuk menjauhkan diri dari tindakan yang mubazir dalam kaitan dengan realisasi kerja cerdas harus dimulai dari langkah-langkah berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Fokus pada skala pengembangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika anda yakin bahwa diri anda memiliki keunggulan atau bakat alamiah, disamping memiliki kelemahan yang diakibatkan oleh faktor heriditas atau lingkungan, maka yang benar-benar anda butuhkan adalah hidup dengan keunggulan tersebut secara cerdas (living with the advantage competitive factors). Hanya jika anda menemukan strategi hidup dengan keunggulan, maka anda akan keluar dari batas rata-rata prestasi lingkungan. Sebelum itu, paling maksimal yang bisa anda capai adalah kualitas hidup seperti orang lain atau seperti yang diraih oleh sepuluh orang yang anda kenal paling dekat. Lalu ke mana keunggulan tersebut diarahkan? Jelas, keunggulan itu harus diarahkan untuk mengoptimalkan apa yang disebut dalam rumusan Pareto dengan 20% of determining factors (factor penentu). Oleh karena itu, temukan apa saja yang menjadi faktor penentu keberhasilan anda dari sekian daftar kegiatan yang anda lakukan dalam hidup. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu dan fokuskan hanya pada hal-hal yang berpotensi untuk pengembangan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Berani Berkorban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam dunia yang sebesar ini terdapat sekian banyak "persoalan kecil" yang kalau anda tidak berani berkorban untuk memaafkannya bisa jadi persoalan itu akan mendominasi muatan pikiran anda yang akhirnya bisa membuat anda melupakan sisi keunggulan, cita-cita, fokus pengembangan diri, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Contoh yang paling sederhana dan sering terjadi di depan mata kita adalah ketika sedang di jalan raya. Di luar dari persoalan tabrakan serius, terkadang hanya karena mobilnya tersenggol sedikit saja orang rela membuang banyak waktu dan kebahagiannya pergi ke kantor. Bahkan bisa berkembang ke arah baku hantam. Padahal kalau dimaafkan (mau berkorban sedikit dengan kehilangan uang beberapa ratus ribu saja untuk memperbaiki mobil yang lecet), maka semua urusan selesai. Auditlah pikiran anda, persoalan apa saja yang kalau anda memaafkannya tidak akan merugikan anda secara misi atau visi dan tidak mengganti isi pikiran anda dengan muatan negatif. Untuk mengetahui apakah persoalan yang sedang anda hadapi tidak akan merugikan anda , gunakan standard audit berikut:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apa saja yang menurut anda menjadi prioritas utama dalam kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan penting dan tidak penting&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan darurat dan tidak darurat yang bisa jadi tidak penting dan tidak prioritas&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan "sampah" - tidak penting, tidak mendesak dan bukan prioritas utama. Namun dalam hal ini anda perlu menyeleksi secara ketat dan hati-hati, sebab bahayanya kalau anda secara mudah memasukan persoalan ke tong sampah ini maka anda bisa terjebak untuk meninggalkan misi atau fokus hidup hanya karena alasan mempertahankan posisi atau kondisi yang ada. Jika anda terjebak maka akhirnya rumus yang terjadi bukanlah 80/20 tetapi sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Membuat Sekat Pembatas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada akhirnya anda harus menentukan batasan-batasan tentang apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, apa modal yang dimiliki, dan akan kemana anda mengarahkan hidup anda. Dalam proses inilah terjadi seleksi dan pengecualian. Dari sekian luas dunia dan isinya, apa saja yang telah anda seleksi menjadi hal yang benar-benar anda inginkan sesuai format pondasi personal anda seperti: kiblat hidup, cita-cita, tujuan, target dan tindakan. Semakin jelas anda memiliki format seleksi dan pengecualian, fokus pada pengembangan diri diiringi keberanian berkorban dengan memahami, mengakui, membuang sesuatu yang tidak dibutuhkan dalam diri anda, maka akan semakin jelas wilayah dunia yang menjadi "hak" anda sehingga semakin tersimpulkan apa yang menjadi determining factors to success itu. Artinya faktor penentu semakin sedikit dan semakin sederhana dan biasanya yang sederhana itu justru akan bisa bekerja optimal. Sementara yang cenderung pelik, ruwet dan kompleks biasanya mandul. Semoga berguna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.duniaesai.com/"&gt;www.duniaesai.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-8068148667268686473?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/8068148667268686473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=8068148667268686473' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/8068148667268686473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/8068148667268686473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/04/konsep-kerja-cerdas.html' title='Konsep Kerja Cerdas'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/SAVQoWvZLcI/AAAAAAAAAFg/15IvKzqCyj0/s72-c/01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-6424941515440704332</id><published>2008-03-14T10:09:00.003+07:00</published><updated>2008-03-17T09:41:43.944+07:00</updated><title type='text'>Mendesain Kurikulum</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/R93Z5-2kuRI/AAAAAAAAADs/8f0xlwYehVY/s1600-h/Duta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 104px; height: 138px;" src="http://bp2.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/R93Z5-2kuRI/AAAAAAAAADs/8f0xlwYehVY/s200/Duta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178534736693606674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perkembangan dunia pendidikan mengalami percepatan luar biasa. Semua pihak berlomba-lomba mendesain model pendidikan yang up to date, aplikatif dan produktif. Namun sepertinya bersifat instan dan responsif dengan pertimbangan sesuai perkembangan zaman. Risikonya, kita bisa kehilangan karakter pendidikan bagi anak-anak kita.&lt;br /&gt;Ada dua hal yang perlu kita persiapkan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, membuat grand desain kurikulum (normatif-tekstual). &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; membuat sistem aplikasi kurikulum (aplikatif-kontekstual) Keduanya saya bahasakan: “membangun filosofi kurikulum berkarakter”. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Grand Desain Kurikulum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/R9vz3-2kuQI/AAAAAAAAADk/TJ9jlijoaNE/s1600-h/allahu"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/R9vz3-2kuQI/AAAAAAAAADk/TJ9jlijoaNE/s200/allahu" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178000339682769154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ilmu pengetahuan yang diajarkan saat ini mengalami pemisahan, yaitu ilmu &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu umum antara lain Matematika, Sains, P&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;KPS dan sebagainya, sedang ilmu agama &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;antara lain Tauhid, Ibadah, Akhlak dan sejenisnya.&lt;br /&gt;Padahal menurut Islam tidak ada pemisahan, baik secara filosofis maupun aplikatif antara ilmu umum dan ilmu agama. Semua ilmu memiliki  karakter yang sama yaitu Tauhid (mengesakan-Nya).&lt;br /&gt;Dari sinilah kita mulai mendesain bangunan induk kurikulum yang nantinya diterjemahkan ke dalam model kurikulum yang aktual dan kontekstual sehingga kita tidak kehilangan dasar pijakan dan tidak ketinggalan zaman.&lt;br /&gt;Model kurikulum yang berganti-ganti dari tahun ke tahun terkesan sangat instan, sebentar-sebentar berubah. Perubahan ini akan berdampak tidak sehat bagi iklim pendidikan saat ini. Dimana guru sebagai media transfer ilmu dipaksa untuk melakukan percepatan dalam perubahan pola belajar-mengajar dan sekaligus dampak buruknya juga dirasakan oleh siswa yang menjadi obyek kurikulum tersebut. Siswa menjadi semacam kelinci percobaan.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, sistem pendidikan memiliki entry point dan ending point yang terukur. Kurikulum pendidikan di institusi pendidikan terpadu semacam LPIT Harapan Bunda sebenarnya memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh institusi pendidikan lain yaitu Kurikulum Pendidikan Berkarakter Tauhid.&lt;br /&gt;Pada institusi pendidikan nonterpadu, parameter keberhasilan siswa dalam belajar cukup dilihat dari akumulasi nilai yang tertinggi dalam semua mata pelajaran. Dengan kata lain siswa yang berhasil adalah mereka yang mencapai peringkat pertama. Tidak bisa dilihat apakah iman, ilmu dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari juga the best. Inilah ketimpangan yang terjadi selama ini.&lt;br /&gt;Sedangkan pada institusi pendidikan terpadu seperti Harapan Bunda keberhasilan siswa tidak hanya diukur secara kuantitas tetapi juga secara kualitas. Seorang siswa yang dikatakan berhasil dalam pendidikan adalah mereka yang semakin cerdas akan semakin beriman dan semakin bagus akhlaknya. Inilah keseimbangan yang tampak dalam pola pendidikan terpadu, yang meletakkan dasar-dasar tauhid ke dalam semua mata pelajaran yang diajarkan. Inilah yang saya maksud membangun Filosofi Kurikulum Berkarakter Tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kurikulum yang aplikatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sistem kurikulum yang aplikatif perlu dirancang sebagai bentuk konkret kurikulum induk berkarakter Tauhid. Sayangnya, kurikulum di Indonesia tidak secara khusus menjadikan Tauhid sebagai nilai dasar keberhasilan pendidikan. Paradigma inilah yang perlu diubah. Butuh jihad pendidikan dari kita untuk kurikulum berkarakter Tauhid ke semua pengetahuan yang jadi santapan anak-anak kita.&lt;br /&gt;Ingat, sekali kita mewariskan sesuatu yang salah, yang menjauhkan mereka dari Allah SWT, menjadikan mereka pintar tapi sombong, maka dosa kita akan terus mengalir selama apa yang kita ajarkan kepada anak-anak terus diamalkan.&lt;br /&gt;Sebaliknya ketika kita meletakkan dasar-dasar pendidikan yang benar bagi mereka, lalu mereka mengamalkan secara kontinyu maka kita telah mencelupkan mereka ke dalam celupan Tauhid.&lt;br /&gt;Kita harus terus berusaha membuat kurikulum yang aplikatif, mampu berkompetisi, dan tidak keluar dari nilai dasar Tauhid. Memang berat, tetapi yakinlah bahwa kita tidak salah dalam merancang bangun sistem pendidikan Islam terpadu. Kuncinya adalah istiqomah dalam memperbaiki sistem, jangan berhenti dan puas dengan yang sudah ada.[] im&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ditulis oleh Drs. H. Duta Grafika (Pemerhati dunia pendidikan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-6424941515440704332?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/6424941515440704332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=6424941515440704332' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/6424941515440704332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/6424941515440704332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/03/perkembangan-dunia-pendidikan-mengalami.html' title='Mendesain Kurikulum'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/R93Z5-2kuRI/AAAAAAAAADs/8f0xlwYehVY/s72-c/Duta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2593442647669437725.post-8622274533006117769</id><published>2008-03-10T11:02:00.000+07:00</published><updated>2008-03-10T11:10:42.114+07:00</updated><title type='text'>Ruang Guru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/R9S0h-2kuJI/AAAAAAAAACg/NRt3jxdIzyM/s1600-h/img_0741.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 260px; height: 195px;" src="http://bp1.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/R9S0h-2kuJI/AAAAAAAAACg/NRt3jxdIzyM/s200/img_0741.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175960367656122514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ruang ini diperuntukkan untuk guru SDIT Harapan Bunda khususnya, dan guru pada umumnya. Juga bagi mereka yang peduli dengan pendidikan anak negeri.&lt;br /&gt;Semoga dengan ruang ini, dapat saling tukar ide dan pemikiran untuk kemajuan pendidikan di negeri yang sedang carut marut ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tim Humas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SDIT Harapan Bunda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2593442647669437725-8622274533006117769?l=guru-sditharbun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/feeds/8622274533006117769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2593442647669437725&amp;postID=8622274533006117769' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/8622274533006117769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2593442647669437725/posts/default/8622274533006117769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guru-sditharbun.blogspot.com/2008/03/ruang-guru.html' title='Ruang Guru'/><author><name>Humas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_mNsPZTsPMmY/R9S0h-2kuJI/AAAAAAAAACg/NRt3jxdIzyM/s72-c/img_0741.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
